Senin, 27 April 2026

Berita Internasional Terkini

Bukan Rusia, Ternyata Amerika Serikat yang Jadi Pemicu Perang Nuklir Melalui Ukraina

Amerika Serikat dituding bakal memicu terjadinya perang nuklir melalui invasi Rusia di Ukraina.

Oleksandr GIMANOV / AFP
Seorang pria mengamati awan asap di latar belakang setelah serangan rudal di gudang perusahaan industri dan perdagangan di Odessa pada 16 Juli 2022, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. Terbaru, Amerika Serikat dapat memicu terjadinya perang nuklir melalui invasi Rusia di Ukraina. 

TRIBUNKALTIM.CO - Di balik perang antara Rusia dengan Ukraina, Amerika Serikat dituding bakal menjadi dalang terjadinya perang nuklir.

Hal ini tak terlepas dari tindakan Amerika Serikat yang ikut campur pada perang Rusia dengan Ukraina, hal ini jugalah yang membuat peluang terjadinya perang nuklir meningkat.

Bukan tidak mungkin Rusia benar-benar menggunakan senjata nuklir untuk menyerang habis Ukraina, karena sanksi yang diberikan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden dinilai mendorong dunia menuju konflik nuklir yang menghancurkan dengan menggunakan krisis Ukraina untuk melawan Rusia.

Peringatan ini disampaikan mantan anggota kongres dan calon presiden AS 2020, Tulsi Gabbard, lewat wawancara yang disiarkan stasiun televisi Fox News.

Petugas pemadam kebakaran mengambil puing-puing dari sebuah bangunan yang rusak setelah serangan udara Rusia di kota Vinnytsia, barat-tengah Ukraina, pada 14 Juli 2022. Kabar terbaru, Amerika Serikat mengklaim Rusia akan mendapatkan pasokan drone tempur dari Iran yang akan digunakan bombardir Ukraina.
Petugas pemadam kebakaran mengambil puing-puing dari sebuah bangunan yang rusak setelah serangan udara Rusia di kota Vinnytsia, barat-tengah Ukraina, pada 14 Juli 2022. Kabar terbaru, Amerika Serikat mengklaim Rusia akan mendapatkan pasokan drone tempur dari Iran yang akan digunakan bombardir Ukraina. (Sergei SUPINSKY / AFP)

“Rakyat Amerika perlu memahami keseriusan situasi yang telah dilakukan oleh pemerintahan Biden dan para pemimpin di Washington,” kata Gabbard.

Tokoh Demokrat Hawaii, menyerukan agar semua fokus pada ancaman besar yang sedang dihadapi, dan menerima kenyataan perang Ukraina terus meningkat.

Biden telah memimpin tuntutan sanksi internasional untuk menghukum Moskow atas serangan militernya di Ukraina.

Baca juga: Zelensky Tak Terima Wilayah Ukraina Mengecil, Zaporozhye Referendum Menuju Rusia

Baca juga: Perang Dunia Terjadi, Presiden Serbia Bocorkan Barat Gunakan Ukraina Melawan Rusia

AS telah menyetujui bantuan senilai $70 miliar, termasuk persenjataan canggih, untuk membantu Ukraina melawan pasukan Rusia.

Selama kunjungan ke Israel pada Kamis, Biden mengatakan Washington akan terus memberikan bantuan semacam itu tanpa batas untuk memastikan Moskow mengalami "kegagalan strategis" di Ukraina.

“Presiden Biden mengatakan dia tidak tahu kapan atau bagaimana itu akan berakhir, tetapi kami tahu ke mana eskalasi ini mengarah,” kata Gabbard.

“Ini membawa kita lebih dekat dan lebih dekat ke ambang perang nuklir dengan Rusia,” katanya memperingatkan.

Kampanye anti-Rusia Biden telah berkontribusi pada tingkat inflasi AS tertinggi dalam lebih dari 40 tahun, termasuk rekor harga bensin dan solar.

Setelah memberikan suara untuk menyetujui paket bantuan Ukraina senilai $40 miliar pada Mei, proyek bantuan berikutnya berlangsung mulus.

Baca juga: Klaim Amerika Serikat, Rusia Bakal Bombardir Ukraina dengan Drone Tempur Milik Iran

“Berinvestasi dalam penghancuran militer musuh kita, tanpa kehilangan satu pun pasukan Amerika, menurut saya adalah ide yang bagus,” kata anggota Kongres AS, Dan Crenshaw (R-Texas).

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved