Aksi Petani di DPRD Kaltim

BREAKING NEWS - Petani Bawa Traktor Geruduk Gedung DPRD Kaltim, Keluhkan Harga BBM dan Pupuk Subsidi

Dua hari pasca peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September 2022, Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Timur menggeruduk Kantor DPRD Kaltim

TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIROUSSANIY
Puluhan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Timur menggelar aksi di depan Gerbang masuk DPRD dengan membawa traktor. TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIROUSSANIY 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dua hari pasca peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September 2022, Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Timur menggeruduk Kantor DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Kota Samarinda, dengan membawa traktor yang digunakan untuk membajak sawah mereka, Senin (26/9/2022).

Aksi ini sendiri adalah bentuk protes dari para petani guna menyuarakan aspirasi mereka terkait melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan pupuk bersubsidi.

"Dari teman-teman petani (yang tergabung di SPI) menuntut terkait harga solar naik, jadi petani tidak bisa menggarap ladang atau sawah kita, artinya tidak bisa jalan traktor. Lalu harga pupuk semua naik, yang subsidi juga naik," tutur Pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI) Kaltim, Abdul Hamid ditemui di depan gerbang halaman utama DPRD Kaltim, Senin (26/9/2022).

"Kami bawa traktornya ada truk juga, supaya mereka mengerti DPRD. Kalau kami bawa traktor ini ke SPBU untuk mengisi BBM gimana? Kan antre," ujarnya.

Abdul Hamid juga menyuarakan terkait Hak Guna Lahan (HGU) yang mana ada pihak-pihak tertentu mencoba menghalangi penggarapan lahan tidur oleh petani atau warga.

Baca juga: Dampak Kenaikan BBM, Petani Kubar Batasi Gunakan Motor, Angkut Hasil Ladang Lebih Berat di Ongkos

"HGU juga kita tuntut, ini rawan karena selama ini lahan tidur yang digarap warga ternyata dihalang-halangi oleh pihak-pihak tertentu sehingga kami kesusahan, dalam artian diserobot," tukasnya.

Perwakilan petani dari Kukar, Kutim dan Balikpapan yang bergabung pada aksi hari ini juga menyuarakan bibit, obat-obatan juga tersedia.

"Harga padi juga merosot, itu karena dari bibit, obat-obat dan pupuk naik juga. Kami meminta agar dari DPRD menyampaikan ini ke pemerintah aspirasi kami. Supaya pupuk turun dan solar juga bisa turun," ujarnya.

Lebih jauh Abdul Hamid menjelaskan dengan penggunaan traktor satu hari bisa sampai 5 hektare untuk menggarap sawah per sekali panen, satu hektare petani bisa berpendapatan 20 karung atau 1 ton jika dikonversi menjadi beras.

"Dalam setahun kurang lebih 2 kali musim panen, tergantung dari air hujan. IKN sudah masuk juga di Kaltim, kami pasti nanti suplai bahan ke sana, tetapi ini kami malah kesusahan untuk memenuhi itu," katanya.

"Sayur-sayur, padi dan beberapa tanaman holtikultura juga bisa terserang penyakit, itu juga kendala," imbuhnya.

Baca juga: Petani di Desa Sebakung Jaya PPU Harap Pemerintah Pusat Bangun Bendungan Telake

Suplai pupuk dan solar juga termasuk kurang di daerah kabupaten. Abdul Hamid menyampaikan terkadang terjadi kelangkaan di daerah dan ini yang jadi poin penting untuk DPRD Kaltim menyampaikan kepada pemerintah

Alhasil petani beralih ke pupuk dan solar non subsidi yang sangat jauh harganya.

"Mahal bagi kami, menurun semua produksi otomatis pendapatan kami menurun juga," ucapnya.

Di sela aksi, perwakilan pihak SPI juga diterima oleh DPRD Kaltim menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait tuntutan dari para petani. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved