Sabtu, 25 April 2026

Video Viral

Akhirnya Ada Negara yang Berani Dukung Rusia Caplok Ukraina dan Sebut AS Gangster

Akhirnya ada negara yang berani dukung Rusia caplok Ukraina dan sebut Amerika Serikat gangster

Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Djohan Nur

TRIBUNKALTIM.CO - Korea Utara pada Selasa (4/10/2022) menyuarakan dukungan untuk pencaplokan Rusia atas wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki pasukannya.

Korut juga menuduh Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya bertindak seperti gangster dengan memimpin gerakan di PBB terhadap perilaku Moskwa.

Dilansir dari Kompas.com, pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Moskwa telah mencaplok empat wilayah Ukraina yang mengadakan referendum oleh Kremlin di area pendudukan militer Rusia.

AS dan negara-negara Barat lainnya menyebut referendum itu palsu, dilakukan di bawah todongan senjata, dan bersumpah tidak akan pernah mengakui pencaplokan tersebut.

Namun Menteri Luar Negeri Korea Utara Jo Chol Su membela referendum untuk bergabung dengan Rusia sebagai hal yang sah dan diadakan sesuai Piagam PBB yang menetapkan prinsip-prinsip kesetaraan rakyat, kata kantor berita KCNA yang dikelola negara.

Korea Utara adalah sekutu Rusia.

"Sebagian besar pemilih mendukung integrasi dengan Rusia," kata Jo dalam laporan KCNA yang dikutip kantor berita AFP.

Rusia pada Jumat (30/9/2022) memveto draf AS di resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengecam pencaplokannya.

Rusia tidak mendapat dukungan untuk veto, sedangkan China dan India abstain.

Jo lalu menuding Amerika Serikat ikut campur dalam urusan internal negara-negara merdeka dan menyalahgunakan Dewan Keamanan PBB.

"Tiada hari tanpa AS menggunakan DK PBB sebagai perisai dan sarana agresi untuk mempertahankan supremasinya," ujar Jo.

"Jika DK PBB akan melanggar hak-hak independen dan kepentingan fundamental dari sebuah negara berdaulat dengan standar ganda yang tidak logis dan seperti gangster yang bertentangan dengan tujuan serta prinsip Piagam PBB, mereka akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensi yang bakal terjadi," pungkas Jo.

Sebelumnya, sejumlah warga Ukraina melaporkan pasukan bersenjata masuk dari pintu ke pintu rumah warga di wilayah yang telah diduduki oleh Rusia, untuk meminta suara referendum bergabung dengan Moskwa.

"Anda harus menjawab secara verbal, dan tentara itu akan mencatat jawabannya di kertas, lalu mengantonginya," kata seorang perempuan di Enerhodar kepada BBC.

Di Kherson selatan, para penjaga Rusia berdiri dengan kotak suara di tengah kota, dan mengumpulkan suara dari masyarakat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved