Berita Nasional Terkini
3 Risiko di Ruang Digital yang Banyak Dihadapi Warganet Indonesia
Jejak digital adalah jejak yang ditinggalkan, baik itu sengaja maupun yang tidak disengaja, saat kita beraktivitas di internet
TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Masyarakat Indonesia tidak bisa terlepas dari penggunaan smartphone dengan format media sosial atau medsos.
Sebagian besar, warga sudah menggunakan medsos sebagai alat komunuikasi yang efektif dan cepat.
Namun dalam penggunaan medos tersebut, juga muncul persoalan dan permasalahan yang dihadapi pengguna media sosial, jagad maya.
Kali ini terdapat 3 risiko di ruang digital seperti media sosial yang banyak dihadapi warganet Indonesia.
Baca juga: Viral di Media Sosial, Video CCTV Detik-detik Rizky Billar Lempar Bola Biliar ke Arah Lesti Kejora
Berinteraksi di dunia maya membutuhkan standar etika layaknya berinteraksi di dunia nyata.
Tanpa etika, pengguna ruang digital rentan terpapar konten negatif yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.
Sehingga kecakapan digital tentang etika dibutuhkan agar berselancar di dunia maya menjadi aman dan nyaman.
Hal ini menjadi benang merah webinar yang mengambil tema “Menjadi Generasi yang Beretika dan Beradab di Tengah Kemajuan Teknologi Digital" di Makassar, Sulawesi Selatan.
Webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni:
Baca juga: Isu Pertalite Lebih Boros Usai BBM Naik Harga Viral di Media Sosial, Begini Penjelasan Pertamina
- Ketua Bidang Ekonomi Digital dan UMKM Sobat Cyber Indonesia, Muhammad Miqdad Nizam Fahmi;
- Dosen dan CTO MEC Indonesia Dedy Triawan;
- Serta Pengurus Bidang Kemitraan dan Legal Relawan TIK Provinsi Bali I Komang Suartama.
Muhammad Miqdad Nizam Fahmi mengatakan, saat ini jumlah pengguna media sosial yang aktif di Indonesia tercatat sebanyak 191,4 juta orang namun ada permasalahan etika warganet Indonesia di dunia digital.
Dalam laporan berjudul Digital Civility Index, Microsoft mengumumkan warganet Indonesia adalah pengguna media sosial paling tidak sopan se-Asia Tenggara.
Baca juga: Jangan Coba-coba Menggunakan Aplikasi Media Sosial Instagram di Rusia, Ini Ancamanya jika Melanggar
Masih berdasar survei tersebut, tiga risiko utama di ruang digital yang banyak dihadapi warganet Indonesia adalah hoaks dan scam, ujaran kebencian dan diskriminasi.
Patut disadari bahwa pengguna di ruang digital datang dari berbagai lokasi dengan adat-istiadat, budaya, pemahaman, maupun latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.
"Jadi perlu berhati-hati dalam menyebar informasi ke publik dan gunakan etika saat berkomunikasi dengan siapapun di ruang digital,” kata Miqdad.
Pengurus Bidang Kemitraan dan Legal Relawan TIK Provinsi Bali I Komang Suartama mengatakan, apabila tidak menggunakan etika bermedia sosial, maka pengguna tersebut rentan terpapar hoaks, ujaran kebencian, pornografi, perundungan siber, maupun konten negatif lainnya.
Baca juga: Viral di Media Sosial, Nasib Pemancing Tewas Tersambar Petir, Polisi Turun Tangan
Bahkan, untuk sekadar bercakap di aplikasi percakapan, misalnya, dibutuhkan etika seperti pilihan waktu, menggunakan bahasa yang baik dan benar, mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan jangan lupa mengucapkan terima kasih sebagai penutup.
“Berhati-hatilah dengan typo atau salah ketik sebab apabila itu terjadi bisa timbul salah paham antar pelaku yang terlibat percakapan,” tutur Komang.
Komang menambahkan, etika lain yang diperlukan adalah memberi komentar di media sosial tanpa menyinggung SARA, tidak menjelekan orang lain, dan tidak mengandung muatan pornografi.
Adapun untuk menghargai karya dan hak cipta orang lain, sebaiknya mencantumkan sumber apabila mengunggah tulisan, foto, video, atau gambar karya orang lain.
Dedy Triawan mengingatkan pentingnya menjaga rekam jejak digital saat beraktivitas di dunia maya.
Jejak digital adalah jejak yang ditinggalkan, baik itu sengaja maupun yang tidak disengaja, saat kita beraktivitas di internet. Jejak digital bisa menjadi celah masuknya potensi kejahatan siber apabila tidak diperhatikan dengan baik.
“Lalu, amankan perangkat untuk menjaga data pribadi kita bocor ke dunia maya. Caranya adalah dengan menggunakan kata sandi yang kuat, berupa kombinasi huruf dan angka, dan secara rutin berkala mengganti kata sandi tersebut,” tutur Dedy.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Laporan Digital Civility Index, Warga Indonesia Pengguna Medsos Paling Tidak Sopan se-Asia Tenggara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Untirta-Jadi-Trending-di-Medsos-Rektor-Beri-Penjelasan-soal-Dugaan-Perploncoan-Mahasiswa-Baru.jpg)