Berita Pemkot Samarinda
Samarinda Terpilih jadi Tempat Proyek Adaptasi Perubahan Iklim, akan Terima Manfaat
Awalnya, karena pada rentan 2018 hingga 2019 sering terjadi bencana di Indonesia, pihaknya berencana mengajukan proposal.
Penulis: Sarikatunnisa | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Direktur Eksekutif Pusat Studi Ketahanan Iklim dan Kota (PSKIK) Untag Surabaya, Retno Hastianti menjelaskan alasan Kota Samarinda dipilih sebagai tempat implementasi proyek adaptasi perubahan iklim.
Awalnya, karena pada rentan 2018 hingga 2019 sering terjadi bencana di Indonesia, pihaknya berencana mengajukan proposal kepada Adaptation Fund terkait dengan kegiatan mitigasi dan adaptasi.
Karena berpikiran program mitigasi telah tersosialisasi dengan cukup masif di Indonesia, maka kegiatan adaptasi dipilih karena dinilai masih minim.
Sebelum menentukan Samarinda sebagai tempat implementasi program, ia katakan pihaknya terlebih dahulu diminta mengajukan 7 kota.
Baca juga: Puji IKN Nusantara, Tony Blair: Kombinasi Pertumbuhan Ekonomi dan Perubahan Iklim
Kemudian dalam perjalanannya, lalu direvisi dan disaring lagi menjadi tiga kota saja.
Terakhir, pihaknya diharuskan memilih satu Kota.
Maka dipilihlah Samarinda karena dinilai memiliki potensi untuk dikembangakan karena perannya yang strategis.
"Kenapa Samarinda? awalnya itu kita mengajukan 7 kota di Indonesia, setelah itu disuruh revisi 3 kota yang memang waktu itu rawan bencana," katanya.
Nah, terakhir itu harus satu kota. "Kita pilih Samarinda karena juga karena terkait dengan potensi pengembangannya," ungkapnya.
Baca juga: 3 Dampak dari Perubahan Iklim, Presiden Jokowi Berpesan Perlu Antisipasi Sedini Mungkin
Peran Samarinda di peta Indonesia peta kalimantan mungkin di peta provinsinya.
"Bahwa dia akan dapat berkembang menjadi salah satu kita yang mampu menyangga IKN," imbuhnya.
Diharapkan jadi Percontohan Kota Penyangga IKN
Diharapkan, Kota Samarinda akan menjadi rule model kota-kota penyangga IKN Nusantara dalam mengadaptasi perubahan Iklim.
Hal ini diutarakan oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi Ketahanan Iklim dan Kota (PSKIK) Untag Surabaya, Retno Hastianti kepada TribunKaltim.co, Selasa (6/12/2022).
Diketahui lokasi pembangunan ruang publik berbasis adaptasi perubahan iklim itu berlokasi di bantaran Sungai Karang Mumus Kawasan Segeri Gang Nibung.
Ditambahkan oleh Direktur Program Untuk Sustainable Governance Strategic Focus Adaptation Fund Indonesia, Dewi Riski mengatakan, untuk proyek itu pihaknya memberikan $ 824 ribu US Dollars.
Dari jumlah $ 824 ribu US Dollars, 60 persen dialokasikan untuk pembangunan fisik dan 40 persen untuk kepada capacity building dengan program Forum Grup Diskusi atau pelatihan kepada masyarakat setempat.
"Nanti arahnya bukan hanya fisik tapi juga ketahanan masyarakat capacity building dan sebagainya. Nanti akan ada FGD kemudian ada pelatihan-pelatihan dari pelaksana kegiatan untuk meningkatkan masyarakat yang ada di sekitar," jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa ini adalah kali pertama Adaptation Fund mendanai proposal publik space dan juga untuk pertama kalinya di Indonesia.
Sehingga sebelum dinyatakan lulus, proposal ini juga diperdebatkan di pihak Adaptation Fund.
Namun karena banyak pihak yang ingin melihat dampak program ini, proposal dinyatakan lulus dan Kota Samarinda menjadi kota yang dipercaya dalam sebagai lokasi pelaksanaan.
"Tadinya di meeting boardnya perdebatannya sengit, tetapi banyak yang ingin melihat dengan adanya public space ini, adaptasi bisa dilakukan, sehingga merek lolos projek ini," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/focus-dwei-riski.jpg)