Berita Balikpapan Terkini

Kekerasan Terhadap Anak di Balikpapan Didominasi Kekerasan Seksual

Kekerasan terhadap anak di Kota Balikpapan terbilang cukup tinggi dengan didominasi oleh kekerasan seksual.

Penulis: Niken Dwi Sitoningrum | Editor: Aris
TRIBUNKALTIM.CO/NIKEN DWI SITONINGRUM
Kosyim, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan mengatakan kekerasan terhadap anak didominasi kasus kekerasan seksual. (TRIBUNKALTIM.CO/NIKEN DWI SITONINGRUM) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kekerasan terhadap anak di Kota Balikpapan terbilang cukup tinggi dengan didominasi oleh kekerasan seksual.

Kosyim, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan mengatakan angka kekerasan terhadap anak di Kota Beriman berkisar di angka 50 hingga 60 kasus.

"Dari data saya, di angka 52 ya hingga 7 Desember 2022 kemarin. Kasus yang tertinggi adalah kekerasan seksual, sebanyak 43 kasus itu dari data pelaporan yang kami dapat," ucap Kosyim ketika ditemui Tribunkaltim.co beberapa waktu lalu.

Ia membenarkan, tingginya kasus kekerasan, khususnya kekerasan seksual terhadap anak tak hanya terjadi di Kota Balikpapan saja, tetapi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Baca juga: Tingkatkan Kapasitas Kader, Rotary Club Balikpapan Gelar Pelatihan Pencegahan Stunting

"Kenapa (kekerasan seksual terhadap anak) tinggi? Apakah anak ini memang ingin melakukan hubungan seksual? Tentu tidak kan," herannya.

"Ini memang banyak faktornya. Dari faktor internal, semisal pihak keluarga atau sekolah itu mungkin tidak efektif mengedukasi terhadap bagaimana cara anak ini berperilaku yang baik," jelasnya.

Selain itu, faktor eksternal seperti kebiasaan penggunaan gadget pada usia anak ini tentunya juga berdampak pada tumbuh kembang anak.

"Anak-anak masih dibiarkan berselancar HP (handphone) tanpa batas. Seharusnya kan ada batasan-batasan, semisal hanya beberapa jam saja dan itu pun harus didampingi, ini yang tidak dilakukan," terangnya.

Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Balikpapan Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia

Hal ini lah yang menurut Kosyim berkontribusi dan mengakibatkan segala macam permasalahan yang muncul pada anak.

"Belum lagi, tak ada penanganan yang tepat dalam hal ini. Bahkan, semisal anak ini dipukul, kemudian larinya ke media sosial (medsos), curhat di medsos misalnya," katanya.

Tentunya, curhatan yang diutarakan melalui medsos tersebut dapat memancing para predator untuk beraksi memanfaatkan momen tersebut, khususnya untuk mengelabui anak-anak yang memang belum dapat berpikir secara matang.

"Di sana kan banyak predator-predator yang menjebak. Akhirnya melakukan hal-hal yang dilarang seperti persetubuhan, kemudian hamil di luar nikah akhirnya terjadi lah pernikahan di usia anak. Anak-anak memiliki anak, terus siapa yang merawat anak itu?" pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved