Rabu, 27 Mei 2026

Berita Balikpapan Terkini

Seniman Jalanan Slamet Hariadi Punya 200 Wayang, Berawal dari Kisah Mahabharata

Gemar menonton pertunjukan wayang sejak duduk di bangku kelas 1 SD, membuat Slamet Hariadi sangat suka seni budaya tersebut.

Tayang:
Penulis: Ardiana | Editor: Jino Prayudi Kartono
TRIBUN KALTIM/DWI ARDIANTO
KOLEKSI WAYANG - Jejeran wayang milik Slamet di kediamannya, Gang Las Vegas, Gunung Malang, Balikpapan. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Gemar menonton pertunjukan wayang sejak duduk di bangku kelas 1 SD, membuat Slamet Hariadi sangat suka seni budaya tersebut.
Slamet mengaku sangat suka dengan kisah Mahabharata dan Ramayana saat masih anak-anak. Kemudian mulai menjadikan pewayangan sebagai hobi.
Bahkan, Slamet mengaku pernah pentas sebagai dalang di Blitar pada tahun 1998. Dengan tiket masuk Rp250 ribu yang disaksikan ratusan penonton yang menyaksikannya.

Namun dia mengaku, karena modal yang kurang ia memilih mundur dan tidak melanjutkan mimpinya itu.
"Saya pernah pentas waktu tahun 98. Cuma karena modalnya kurang, jadi enggak lanjut," jelasnya.
Lebih lanjut, Slamet menceritakan saat pindah ke Kalimantan Timur pada tahun 2006, ia sempat membuat wayang dari kertas dan plastik. Kemudian ia jual dengan harga yang dibanderol mulai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.
Nahas, penjualan wayang kertas tersebut buntu. Sehingga membuatnya memilih untuk mengamen dengan konsep dalang jalanan sejak tahun 2019 hingga sekarang.
Hingga saat ini ia sudah memiliki lebih dari 200 wayang di kediamannya. Baik wayang yang terbuat dari kertas tebal, plastik, hingga wayang kulit.

KOLEKSI WAYANG - Jejeran wayang milik Slamet di kediamannya, Gang Las Vegas, Gunung Malang, Balikpapan.
KOLEKSI WAYANG - Jejeran wayang milik Slamet di kediamannya, Gang Las Vegas, Gunung Malang, Balikpapan. (TRIBUN KALTIM/DWI ARDIANTO)

Ratusan wayang yang ia miliki dirawat dengan telaten. Terutama wayang yang terbuat dari kulit. Untuk menghindari jamur, lelaki berumur 50 tahun ini sesekali mengeluarkannya dari kotak penyimpanan.
"Perawatannya, dikasi keluar untuk menghindari jamuran, biar awet. Terutama yang kulit. Tapi kalau yang kertas atau plastik itu awet,"jelasnya.
Menurutnya, kisah pewayangan membuatnya suka dengan seni budaya ini. Terlebih kisah-kisah penuh makna tentang kehidupan. Slamet juga mengaku, sangat suka dengan tokoh-tokoh Pandawa dalam kisah Mahabarata, seperti Arjuna.
Bahkan, wayang yang pertama kali ia buat adalah Arjuna. Uniknya, Slamet menggambar dan membentuk tokoh tersebut tanpa melihat contoh.

"Buatnya hapal. Liat sebentar langsung saya gambar. Justru kalau sambil liat contoh, susah," tutur pria Anak satu anak tersebut.
Slamet mengaku, ia menjadi seniman wayang jalanan untuk mencari nafkah. Dengan berkeliling di kawasan Sungai Ampal, Kampung Timur, dan Daerah Beller.
Setiap hari ia menghampiri beberapa coffe shop hingga rumah makan di 3 kawasan tersebut. Dengan penghasilan paling banyak Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per harinya.
"Cuman orang ngasi enggak tiap hari toh. Cuman kalau dikasi alhamdulillah," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved