Video Viral
Penjualan Terus Menurun, Kini Tupperware Terancam Bangkrut, Terlilit Utang Jumbo
Penjualan terus menurun, kini Tupperware terancam bangkrut, terlilit utang jumbo
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Robin Ono Saputra
TRIBUNKALTIM.CO - Perusahaan Tupperware terancam bangkrut setelah sahamnya anjlok hingga 50 persen di angka 1,24 dolar.
Dilansir dari Tribunnews.com, dalam siaran pers-nya pada Senin (10/4/2023), Tupperware mengumumkan keraguan perusahaan untuk dapat melanjutkan usahanya jika finansialnya belum pulih.
Tupperware mengatakan, mereka telah menyewa penasihat keuangan untuk menjajak opsi bagi perusahaan dan untuk memulihkan keraguannya akan kebangkrutan.
Presiden dan CEO Tupperware Brands, Miguel Fernandez, mengatakan perusahaan Tupperware melakukan yang terbaik untuk mengembalikan kondisi.
Tupperware mengatakan sedang bekerja untuk memperbaiki struktur modal dan likuiditas jangka pendeknya.
Mereka juga meminta penasihat keuangan yang telah mereka sewa untuk membantunya mencari investor atau mitra potensial.
Selain itu, Tupperware juga meninjau portofolio real estatnya untuk potensi suntikan tunai.
“Perusahaan melakukan segala daya untuk mengurangi dampak peristiwa baru-baru ini, dan kami mengambil tindakan segera untuk mencari pembiayaan tambahan dan mengatasi posisi keuangan kami,” kata Miguel Fernandez, dikutip dari Fortune.
Saham Tupperware turun selama bertahun-tahun karena model bisnis utamanya yang menjual langsung ke konsumen melalui tenaga penjualan konsumen, tidak lagi disukai.
Perusahaan Tupperware yang berusia 77 tahun ini sebagian besar mendapat pendapatannya dengan sales yang menjual produk dari pintu ke pintu.
Ada lebih dari tiga juta tenaga penjual Tupperware di lebih dari 70 negara.
Perusahaan Tupperware menghadapi masalah dengan beban utang yang membengkak menjadi 705 juta dolar.
Jumlah ini lebih dari 10 kali nilai pasar perusahaan saat ini yang sedikit di atas 60 juta dolar, menurut temuan peraturan.
Perusahaan Tupperware gagal menyampaikan laporan tahunannya untuk tahun lalu tepat waktu, yang membuatnya melanggar berbagai perjanjian dengan pemberi pinjamannya.
"Perusahaan saat ini memperkirakan, jika tidak dapat memperoleh sumber modal yang memadai atau amandemen perjanjian kreditnya, mungkin tidak memiliki likuiditas yang memadai dalam waktu dekat," kata Tupperware dalam siaran pers.