Video Viral
Kini AS Yakin China Bisa Damaikan Perang Ukraina vs Rusia, Xi Bisa Pengaruhi Putin
Kini Amerika Serikat yakin China bisa damaikan perang Ukraina vs Rusia, Xi Jinping bisa pengaruhi pemikiran Vladimir Putin
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Djohan Nur
TRIBUNKALTIM.CO - Hanya dalam beberapa bulan, pejabat-pejabat Amerika Serikat beralih dari secara terbuka memperingatkan China agar tidak memberi dukungan material untuk perang Rusia di Ukraina, hingga menyatakan bahwa Beijing bisa berperan dalam menengahi pembicaraan damai.
Dilansir dari Kompas.com, pada 24 Februari, hari ketika China mengungkap 12 proposal perdamaiannya, Menlu AS Antony Blinken menyuarakan skeptisisme dalam sambutannya pada pertemuan tingkat menteri Dewan Keamanan PBB tentang Ukraina.
“Tidak ada anggota dewan ini yang boleh menyerukan perdamaian sementara mendukung perang Rusia di Ukraina dan Piagam PBB,” kata Blinken, setahun setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Sementara, pada 3 Mei, Menlu AS itu secara terbuka mengakui bahwa kemungkinan China bisa berperan sangat menguntungkan dalam pembicaraan damai.
Analis dan mantan pejabat Amerika mengatakan kepada VOA, perubahan nada suara AS itu sebagian adalah tanggapan atas sekutu Washington di Eropa yang memandang Presiden China, Xi Jinping sebagai satu-satunya pemimpin yang bisa memengaruhi pemikiran Presiden Rusia Vladimir Putin tentang perang di Ukraina.
China sejak itu mengumumkan akan mengirim utusan perdamaian ke Ukraina, meskipun sebagian tetap skeptis bahwa Beijing bisa bertindak netral.
Utusan khusus China untuk urusan Eurasia, Li Hui, diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Ukraina dan negara-negara lain dalam mengupayakan gencatan senjata dan resolusi diplomatik untuk perang itu.
Li, yang fasih berbicara bahasa Rusia, adalah mantan utusan China untuk Rusia dari 2009 hingga 2019.
Dia termasuk di antara sedikit orang yang dianugerahi Medali Persahabatan oleh Putin.
Sebelumnya, Kanselir Jerman, Olaf Scholz mengatakan pihaknya akan mengawasi senjata dari Jerman yang digunakan di Ukraina.
Scholz berjanji akan memonitor penggunaan bantuan senjata Jerman agar Ukraina tidak menyerang wilayah Rusia.
Hal ini demi mencegah eskalasi antara NATO dengan negara yang dipimpin Vladimir Putin itu.
"Berlin tidak bermakasud mengambil langkah sepihak dalam hal pasokan senjata ke Ukraina, dengan alasan mencegah eskalasi antara NATO dan Rusia," kata Scholz pada warga Jerman di kota Bendorf di Rhineland-Palatinate, Senin (1/5/2023), dikutip dari RIA Novosti.
Ia menekankan, Ukraina tidak boleh menggunakan senjata yang diterima dari Barat untuk menyerang wilayah Rusia.
"Penting bahwa senjata yang dapat digunakan Ukraina untuk mempertahankan diri tidak digunakan untuk menyerang wilayah Rusia," kata Scholz.