Selasa, 14 April 2026

Berita Kutim Terkini

Inspiratif, Kisah Jurnalis di Kutai Timur Melawan Tumor Otak

Raymond Chauda, jurnalis di Kutai Timur yang kini menakhodai Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT) periode 2023/2025, memiliki kisah tak terlupakan

Penulis: Nurila Firdaus | Editor: Mathias Masan Ola
HO/Raymond Chauda
Raymond Chauda, jurnalis Kutai Timur yang memiliki kisah tak terlupakan dalam melawan penyakit tumor otak.  HO/Raymond Chauda 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Raymond Chauda, jurnalis di Kutai Timur yang kini menakhodai Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT) periode 2023/2025, memiliki kisah tak terlupakan di sepanjang hidupnya, hingga saat ini masih melawan penyakit tumor otak.

Sejak tahun 2014, Raymond telah terjun ke dunia jurnaliastik, diawali sebagai jurnalis kriminal, saat itu ia masih duduk di bangku kuliah.

Sebelumnya, di tahun 2012, ia sempat berjuang melawan penyakitnya, sekitar sebulan waktu itu ia tidak mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus.

Baca juga: PT Dharma Satya Nusantara Gelar Buka Bersama dengan Puluhan Jurnalis Kutai Timur

"Sebulan sudah saya tak hadir perkuliahan. Lumpuh separuh tubuh ini ternyata bukan karena gangguan makhluk halus seperti dugaan para orang pintar yang coba mengobati. Itu karena tumor sebesar pentol bakso di ujung otak kanan saya, yang tergolong jinak. Namun, menyerang saraf motorik," terangnya, Kamis (6/7/2023).

Waktu bulan April 2012, sebelum ia dioperasi, tangan kirinya keadaan lumpuh sehingga dalam hampir segala aktivitas, perlu dibantu. Waktu itu, ia selalu dibantu oleh ibunya, sosok yang selalu ia kagumi, juga ayahnya.

Tiba saatnya, operasi pengangkatan tumor oleh dokter spesialis bedah saraf di RSUD AW Sjahranie, Samarinda. Ia merasa selama 8 jam operasi berlangsung, kepalanya dibelah hingga batok tengkorak kepalanya juga digergaji.

Lanjutnya, otaknya terasa diutak-atik karena tumor itu diangkat sedikit demi sedikit.

"Jelas, ini antara hidup dan mati. Mungkin malaikat kematian saat itu ikut menonton jalannya operasi. Bila memang saatnya, nyawa saya bakal dicabut," imbuhnya sambil sedikit tersenyum mengingat masa-masa itu.

Baca juga: Gelar Buka Bersama, Aliansi Jurnalis Kutai Timur Tebar Manfaat pada Adik-Adik Pesantren

Akhirnya, tiba-tiba keadaan ia terbangun di ruang ICU, 3 perawat berada di hadapan, ia ingin bertanya sedang berada dimana, akan tetapi suaranya tak bisa keluar karena tenggorokan kering efek dinginnya ruang operasi dan juga karena sedang puasa sebagai syarat operasi.

Bersyukur, operasi yang ia jalani berhasil, namun bukan berarti ia lepas dari penyakit tersebut.

Di tengah-tengah masih menjadi mahasiswa hingga bekerja di bidang jurnalistik ia masih berjuang melawan penyakit itu.

"Sekarang sudah normal, hanya saja belum bisa lepas dari obat-obatan," tuturnya.

Baca juga: Aliansi Jurnalis Kutai Timur Serahkan Sembako ke Pondok Pesantren, Berbagi dalam Bingkai Kebersamaan

Kendati demikian, ia tetap dikenal oleh banyak orang sebagai jurnalis kondang yang aktif dan tidak pernah pelit ilmunya. Banyak gebrakan-gebrakan khususnya untuk generasi muda di dunia jurnalis yang sukses ia lakukan.

"Pesan saya, banyak-banyak belajar dari orang lain tanpa menghilangkan identitas diri sendiri," tegasnya.

Di akhir ia memberikan sedikit nasihat kepada para pembaca, sesulit apapun hidup bahkan meski di antara hidup dan mati, pasti ada jalan yang terbaik yang dipilihkan oleh Sang Pencipta.

"Jangan lupa bersyukur dan terus berbuat baik, tanpa itu, hidup tidak akan berkah," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved