Berita Nasional Terkini
Disebut Cuma Untungkan China, Perdebatan Jokowi vs Faisal Basri Soal Hilirisasi Nikel, Siapa Benar?
Ekonom, Faisal Bisri menyanggah pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut hilirasisasi nikel membuat Indonesia meraup untung Rp 517 T.
TRIBUNKALTIM.CO - Jokowi vs Faisal Basri soal hilirisasi nikel, siapa benar?
Perdebatan antara Presiden Joko Widodo dan Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri kian memanas.
Ekonom, Faisal Bisri menyanggah pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut hilirasisasi nikel membuat Indonesia meraup untung Rp 517 triliun.
Sekilas informasi, pernyataan Jokowi ini juga menjawab tudingan Faisal Bisri sebelumnya yang menyebut bahwa hilirisasi nikel yang dilakukan pemerintah Indonesia justru menguntungkan China.
Baca juga: Golkar dan PAN Dapat Restu Jokowi Gabung ke KKIR Usung Prabowo Subianto di Pilpres 2024
Hal ini dimulai dari pandangan Faisal yang menyebut bahwa program hilirisasi nikel yang kini masif digarap Pemerintah, dianggap menguntungkan China dan negara lain.
Namun setelah itu, Presiden Jokowi merespons tudingan Faisal, dan menegaskan hal tersebut salah kaprah.
Menurut Jokowi, kebijakan hilirisasi industri telah mendongkrak nilai ekspor sumber daya alam, salah satunya nikel yang melonjak menjadi Rp 510 triliun setelah pemerintah menyetop ekspor bijih nikel.
Lewat nilai ekspor yang besar itu, pemerintah akan mendapat pemasukan yang besar dari sisi pajak, royalti, bea ekspor, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Jika tidak ada program hilirisasi, komoditas nikel saat diekspor dalam bentuk bahan mentah, kira-kira hanya Rp 17 triliun per tahun.
Presiden pun mempertanyakan balik metode yang digunakan Faisal Basri dalam menyatakan China dan negara lain diuntungkan dari kebijakan hilirisasi.
Dibantah
Faisal melalui blog pribadinya faisalbasri.com pun menjawab hitung-hitungan Jokowi dan memaparkan hitungan versi dirinya.
Ia menyebut angka-angka yang disampaikan Jokowi soal nilai ekspor kurang jelas dan tidak jelas hitungannya.
"Presiden hendak meyakinkan bahwa kebijakan hilirisasi nikel amat menguntungkan Indonesia dan tidak benar tuduhan bahwa sebagian besar kebijakan hilirisasi dinikmati oleh China," ucap Faisal dalam Blog pribadinya dikutip, Sabtu (12/8/2023).
Faisal memaparkan, jika berdasarkan data 2014, nilai ekspor bijih nikel (kode HS 2604) hanya Rp 1 triliun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20231408_faisal-basri-jokowi.jpg)