Rabu, 6 Mei 2026

Pom Mini di Samarinda Terbakar

Harta Benda Ludes, Korban Kebakaran di Ring Road III Samarinda Minta Pom Mini Dihilangkan

Tak ada satupun harta benda yang bisa diselamatkan, korban kebakaran di Ring Road III Samarinda minta pemerintah hilangkan pom mini.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rita Lavenia | Editor: Diah Anggraeni
TribunKaltim.co/Rita Lavenia
Ayu (daster biru) saat menceritakan kronologis musibah kebakaran di Ring Road III Samarinda, Sabtu (16/3/2024) pagi. Tak ada satupun harta benda yang bisa diselamatkan, ia meminta pemerintah menghilangkan pom mini. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Tubuh Ayu mendadak lemas tak berdaya.

Perempuan berusia 48 tahun itu terkejut melihat jilatan api yang sudah menguasai sebelah rumah toko (ruko) sewaannya di Jalan HM Ardans atau Ring Road III, RT 12 Kelurahan Sempaja Barat, Kecamatan Samarinda Utara, Sabtu (16/3/2024).

Hari masih begitu pagi, waktu baru menunjukan Pukul 05.30 Wita.

Saat itu, Ayu hendak mempersiapkan bumbu makanan untuk dijual saat berbuka puasa pada akhir pekan ini.

Tiba-tiba saja ia mendengar suara kegaduhan dari luar ruko.

Baca juga: Satu Orang Tewas dalam Kebakaran di Ring Road III Samarinda, Disdamkar Beberkan Kondisinya

Bersamaan itu, penciumannya juga menangkap aroma bahan bakar minyak (BBM) yang cukup menyengat.

Ayu sempat acuh dengan kegaduhan yang ada, mengingat warung sembako dan bengkel milik Ambo itu buka selama 24 jam.

Ditambah lagi setiap hari BBM eceran dari pom mini milik tetangganya itu kerap memenuhi area teras depan.

Ruko permanen berkelir putih yang disewanya merupakan bangunan berlantai dua tiga pintu.

Ia menyewa salah satu dari pintu ruko, sementara dua pintu lainnya disewa oleh Ambo, panggilan akrab pelaku usaha yang menjual sembako dan BBM eceran serta bengkel motor itu.

Saat Ayu menyiapkan peralatan memasak, tidak berselang lama teriakan meminta tolong membuat detakan jantungnya mulai tak karuan.

"Yang ada di pikiran saya ada perampokan di ruko sebelah. Takut mau keluar. Tapi karena ramai, saya akhirnya memberanikan diri membuka pintu (rolling door)," kata Ayu kepada Tribunkaltim.co.

Alangkah terkejutnya Ayu, dia disambut kobaran api yang berkobar di bagian pom mini dan bengkel Ambo.

Tubuhnya lunglai, namun dia mencoba terus berteriak histeris memanggil nama sang buah hati yang masih terlelap di lantai dua dengan sisa kekuatan yang ada.

Baca juga: Pom Mini di Samarinda Terbakar, 1 Korban Terjebak Dalam Rumah yang Terkepung Api

Tak ada jawaban, suaminya oun berlari ke lantai dua untuk menyadarkan anak gadisnya.

"Saat itu api sudah setinggi lantai dua. Kalau anak saya tidak bangun, pasti terkurung api," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Keinginan menyelamtkan diri membuat Ayu, suami dan anak mereka yang bernama Yanti tak sempat menyelamatkan satupun barang berharga. 

Saat keluar sempat terjadi letupan beberapa kali yang berasal dari pom mini dan bengkel milik Ambo.

Ia melihat Ambo dan sang istri histeris di median jalan. Kaki tetangganya tersebut nampaknya melepuh.

Di sela rasa panik, pendengarannya kembali menangkap suara teriakan meminta tolong.

Suara itu kadang terdengar jelas, namun lebih sering samar. 

Dia lantas mencari-cari sumbernya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pagi Buta Pom Mini di Jalan Ring Road III Samarinda Terbakar, Ada Satu Korban Jiwa

Ayu pun terkejut saat suara itu berasal dari bangunan ruko milik Ambo yang tengah terbakar dengan hebatnya.

"Belum ada pemadam. Suara itu ternyata dari lantai dua. Itu anaknya Ambo, namanya Risky," ucapnya dengan linangan air mata. 

Saat itu mereka hanya bisa menangis histeris tanpa bisa berbuat banyak.

Pasalnya, ceceran bahan bakar dari pom mini yang ada membuat api cepat membesar.

Suara Risky yang terus melemah masih terdengar selama lima menit lamanya

Hingga akhirnya, pemadam kebakaran gabungan tiba di lokasi kejadian dan langsung melakukan pemadaman.

Dalam upaya penanganan itu, Disdamkar Samarinda menggunakan cairan foam atau busa untuk menangani api yang terus menjadi karena ceceran BBM.

"Pas pemadam datang suara Risky sudah tidak ada. Pas dicek ternyata meninggal," ucap Ayu pelan sembari mengusap air mata menggunakan daster biru yang dikenakannya.

Peristiwa ini menyisakan trauma tersendiri bagi Ayu, harta benda tak ada yang terselematkan.

Namun hanya satu permohonannya bersama warga setempat, yakni Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim dapat menghilangkan pom mini.

"Menguntungkan bagi mereka (pemilik pom mini), tapi kalau sudah begini rugi besar, nyawa hilang. Tolong pemerintah hilangkan pom mini. Kami sangat takut," pungkasnya dengan mata yang kembali berair. (*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved