Sejarah

Sejarah 6 April: Hari Nelayan Indonesia, Ada 20 Ucapan untuk Turut Memperingatinya

Salah satu sejarah 6 April ialah peringatan Hari Nelayan Indonesia. Hari Nelayan Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi terhadap jasa para nelayan. 

Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Nisa Zakiyah
Canva/TribunKaltim.co
SEJARAH 6 APRIL - Ilustrasi. Hari Nelayan Indonesia, ada 20 ucapan untuk turut memperingatinya. 

TRIBUNKALTIM.CO - Salah satu sejarah 6 April ialah peringatan Hari Nelayan Indonesia.

Hari Nelayan Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi terhadap jasa para nelayan

Seperti yang sering kita lihat, para nelayan ini rela berselimut angin, menembus hujan badai dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein dan gizi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga: Sejarah 4 April: Kecelakaan Kereta Api Malabar 86 Akibat Tanah Longsor Tepat 10 Tahun yang Lalu

Tak jarang juga para nelayan singgah hingga menginap di pulau-pulau mana saja saat berlayar mencari ikan. 

Mereka juga merupakan penjaga garis pantai terluar Indonesia.

Serta memberikan informasi terhadap kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia.

Nelayan juga berperan sebagai penyedia protein hewani dari sumber ikan, perekat hubungan antar daerah, bahkan sebagai penghasil devisa negara dari sektor perikanan dan kelautan.

hari nelayan indonesia-1
Ilustrasi. Nelayan.

Mengutip kata bijak dari Vincent Van Gogh “Para nelayan tahu bahwa laut itu berbahaya dan badai itu mengerikan, tetapi mereka tidak pernah menemukan alasan yang cukup bahaya untuk tetap di darat.”  

Maka dari itu, tanggal 6 April ini diperingati sebagai Hari Nelayan Indonesia untuk mengapresiasi jasa mereka yang tak ternilai itu.

Bagi kamu yang penasaran dengan sejarah terbentuknya Hari Nelayan Indonesia, simak informasi berikut.

Baca juga: Sejarah 30 Maret: Hari Film Nasional Indonesia, Darah dan Doa Jadi Film Lokal Pertama yang Tayang

Sejarah Hari Nelayan Indonesia

Melansir dari berbagai sumber, diketahui bahwa setiap tanggal 6 April, masyarakat dahulu yang berada di Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jawa Barat sering mengadakan upacara Labuh Saji. 

Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada seorang putri bernama Nyi Putri Mayang Sagara.

Upacara ini bertujuan agar rakyat mendapat kesejahteraan dari pekerjaan mereka sebagai nelayan.

Biasanya sesajen yang digunakan berupa kepala kerbau atau kepala kambing. 

Namun, saat ini tradisi tersebut diganti dengan penaburan benih ikan, bibit udang dan anak penyu ke tengah teluk Pelabuhan Ratu Sukabumi. 

Baca juga: Sejarah 29 Maret: Royal Albert Hall Dibuka oleh Ratu Victoria untuk Mengenang Suaminya

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved