Berita Samarinda Terkini
Perumdam Tirta Kencana Samarinda Minta Warga Bersabar dan Menghemat Pemakaian Air Bersih
Hal tersebut membuat kondisi air Sungai Karang Mumus (SKM) tak cukup normal dan berdampak pada produksi air baku Perumdam Tirta Kencana Samarinda
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Belakangan ini cuaca di Kota Samarinda, Kalimantan Timur tidak menentu. Hal tersebut membuat kondisi air Sungai Karang Mumus (SKM) tak cukup normal dan berdampak pada produksi air baku Perumdam Tirta Kencana Samarinda.
Salah satu warga asal Jalan Damanhuri, Pendi, menyadari hal ini. Sejak dua minggu terakhir, dirinya mengaku mau tak mau harus menikmati air meski dirasa lengket, beraroma, yang tak jarang berwarna hitam pekat.
"Airnya bangai, bahkan kalau dibiarkan semalam ada endapan lumpur yang cukup tebal," ungkapnya saat ditanya TribunKaltim hari ini, Selasa (14/5/2024).
Diakuinya, belakangan ini, pada jam-jam tertentu, kondisi air di kawasan tempat tinggalnya kembali menjadi tak normal.
"Jam 10 malam airnya keruh, siangnya nanti airnya kecil, kadang jernih kadang keruh. Saya sampai bentol-bentol gatal, entah karena airnya atau gimana tapi saya gak punya riwayat alergi dingin," papar Pendi.
Baca juga: Perumdam Tirta Kencana Samarinda Buka Rekrutmen Dua Jabatan, Direksi dan Dewan Pengawas
Baca juga: Walikota Samarinda Andi Harun Minta Perumdam Tirta Kencana Tambah Unit Pengelolaan Air Bersih
Saat dikonfirmasi, Sendya Ibanez selaku Asisten Manajer Perumdam Tirta Kencana menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh perubahan kualitas air baku di Sungai Mahakam.
"Apalagi yang terbentuknya dari danau, karena biasanya kota Samarinda khususnya kalau tidak hujan maka air danau itu mengeluarkan bau yang sangat lumayan," ungkap Sendya.
Cuaca yang tidak menentu menyebabkan air danau mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sehingga produksi air baku di beberapa Instalasi Pengolahan Air (IPA) di kawasan Gunung Lingai, Bengkuring, serta berdampak di anak sungai seperti di kawasan Pampang.
"Tapi memang di Pampang tidak terlalu besar karena di sana cuma 10 ribu per detik. Yang lumayan besar di IPA Gunung Lingai, makanya kenapa di daerah Kecamatan Samarinda Utara seperti di Sempaja, Kesejahteraan, Lempake, dan sekitarnya pasti mengeluhkan air bau dan agak kotor," jelasnya.
Meskipun kualitas air yang didistribusikan ke warga mengalami penurunan, Perumdam Tirta Kencana Samarinda tidak menurunkan produksi air. Jika produksi air diturunkan, hal ini dikhawatirkan membuat air tidak akan mengalir ke seluruh pelanggan. Mengingat debit air yang semakin kecil dan jarak yang jauh antara sumber air dan rumah warga.
"Jadi kalau kami turunkan sedikit dan airnya agak jauh itu pasti gak ngalir. Makanya kami tetap produksi, cuma memang berdampak daripada air baku yang ada di Sungai Mahakam," tutur Sendya.
Baca juga: Tanggapi Kebutuhan Air Bersih Perumahan BCL, Perumdam Tirta Kencana Mulai Salurkan Air Sementara
Di samping itu, Sendya menegaskan bahwa air yang didistribusikan masih layak pakai. Dalam situasi ini, dirinya mengimbau warga Samarinda untuk menampung air dan menggunakannya secukupnya selama periode ini.
"Karena kami tidak mungkin memberikan masyarakat kualitas air yang tidak memenuhi standar dengan lab kami. Dan saat ini harus bersabar karena memang kondisi cuaca, disarankan menampung air dulu dan gunakan air seperlunya," pungkasnya. (*)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya
| Walikota Samarinda Siapkan Aturan Ketat Penerapan WFH ASN, Andi Harun: Pakaian Juga Kita Atur |
|
|---|
| Tidak Ada Lonjakan Signifikan Pertumbuhan Penduduk di Samarinda Usai Idul Fitri |
|
|---|
| Pemkot Samarinda Finalisasi WFH ASN, Fokus Efisiensi Energi dan Pengurangan Emisi |
|
|---|
| 42 Pelajar Lolos Seleksi Awal Paskibraka Samarinda 2026, Bersiap Tes Intelegensi |
|
|---|
| Ubah Sampah Jadi Listrik, Samarinda Kekurangan 340 Ton Sampah, Jalin Kerjasama dengan Kukar |
|
|---|
