Kamis, 30 April 2026

HUT Kemerdekaan RI

3 Contoh Amanat Pembina Upacara untuk Semarakkan HUT RI

Berikut contoh amanat pembina upacara kemerdekaan 17 Agustus yang penuh semangat untuk semarakan jiwa juang kemerdekaan Republik Indonesia

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Warta Kota/Henry Lopulalan
DUPLIKAT BENDERA PUSAKA - Ilustrasi, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) melakukan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017) lalu. 

Mohon dimaafkan jika ada kata-kata yang menyinggung atau salah ucap dalam pidato yang saya sampaikan karena kesempurnaan sejatinya hanyalah milik-Nya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Baca juga: 5 Contoh Pidato Kemerdekaan 17 Agustus Untuk Semarakkan Perjuangan

Contoh 2

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Hadirin yang saya hormati,

Pertama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. karena berkat karunia dan limpahan rahmat-Nya kita semua bisa berkumpul memperingati Hari Ulang Tahun Ke-78 Republik Indonesia.

Hadirin yang saya hormati,

Hari ini, tepat 78 tahun yang lalu, Indonesia menyatakan diri sebagai sebuah negara merdeka. Merdeka dari segala penjajahan fisik dan mental kolonialisme yang telah beratus tahun bangsa ini alami.

Perjuangan meraih kemerdekaan sangat berat dan harus bertaruh jiwa dan raga. Para pahlawan, baik yang berjuang secara lokal kedaerahan maupun di era nasional telah rela berkorban nyawa demi tegaknya bumi pertiwi ini.

Mulai senjata sederhana, seperti bambu runcing sampai senjata modern, mereka dengan gagah perkasa melawan kejamnya penjajah.

Hadirin yang saya hormati,

Apakah setelah pidato kemerdekaan 78 tahun lalu, kita sudah sepenuhnya merdeka? Secara fisik memang kita sudah merdeka dan diakui sebagai sebuah negara berdaulat. Namun, ada hal lain yang wajib kita pahami bahwa penjajahan sekarang ini lebih mengarah kepada mental.

Globalisasi membuat segala hal cepat berubah dan tak disangka. Hal ini mengancam kedaulatan negara. Kedaulatan negara, saat ini terancam bukan dengan perang senjata, tetapi oleh perang ide, gagasan, dan produk.

Beberapa waktu lalu kita sudah melaksanakan pesta demokrasi pemilu langsung. Namun, pemilu seolah menjadi perang antarkubu pendukung pasangan calon. Berita hoaks, hujatan, dan kebencian merajalela di media sosial sehingga merusakan tatanan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pertemanan yang tadinya damai, kini menjadi hancur hanya karena berbeda pilihan. Kebencian mendalam seolah menjadi senjata andalan dalam rangka merusak negara ini dari dalam.

Hadirin yang saya hormati,

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved