Selasa, 14 April 2026

Berita Samarinda Terkini

Tambangan dan Amparan Tatak Samarinda Diusulkan jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Dua penulis dari komunitas Historia Kaltim, Syifa Hajati dan Muhammad Sarip mengusulkan agar perahu tambangan dan penganan amparan tatak

Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIRUS
Dua penulis dari komunitas Historia Kaltim, Syifa Hajati dan Muhammad Sarip mengusulkan agar perahu tambangan dan penganan amparan tatak didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, dalam Diskusi Terpumpun yang digelar di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda pada Rabu (13/11/2024). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Dua penulis dari komunitas Historia Kaltim, Syifa Hajati dan Muhammad Sarip mengusulkan agar perahu tambangan dan penganan amparan tatak didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, dalam Diskusi Terpumpun yang digelar di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda pada Rabu (13/11/2024).

Dalam forum yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur itu dibahas naskah akademik karya penulis yang telah di-SK-kan oleh Disdikbud Kaltim tertanggal 28 Agustus 2024.

Dihadirkan pula maestro tambangan, yakni Jamaluddin dan Salimudding, serta maestro amparan tatak Maskota Muradiah dan Khairunnisa.

Syifa Hajati mempresentasikan naskah berjudul “Tambangan Perahu Ikonik Sungai Mahakam di Samarinda”.

Baca juga: Budaya Kutai Dapat Pengakuan, Tingkilan, Gambus, dan Sumpit Jadi Warisan Takbenda Indonesia

Adapun naskah yang ditulis oleh Sarip berjudul “Amparan Tatak Kuliner Tradisional Khas Samarinda”.

Dalam paparannya, Syifa yang merupakan Presiden Mahasiswa UINSI Samarinda periode 2023–2024 tersebut bercerita pengalaman masa kecilnya sebagai warga yang berdomisili di Samarinda Seberang.

“Ketika saya anak-anak, pada tahun 2009-an saya bersama teman-teman dari rumah bersepeda pergi ke dermaga. Sepeda diparkir di dermaga. Lalu kami menumpang tambangan menyeberang Samarinda Kota. Saat itu tarifnya Rp1.000,-/orang. Tujuan kami waktu itu adalah bermain di mal Mesra Indah di dekat Pasar Pagi,” tutur Syifa.

Naskah penelitian Syifa menyimpulkan bahwa tambangan merupakan sebuah ikonik budaya takbenda yang perlu dilestarikan karena unsur nilai budaya dan aspek sejarah yang melekat pada perahu berkonstruksi kayu ulin tersebut.

Sementara itu, Sarip mengungkapkan, Samarinda dengan penduduknya yang heterogen tetap memiliki kearifan lokal dalam bidang kuliner yang terpelihara sejak dulu hingga masa kini.

“Amparan tatak dari aspek nama sangat khas dari komunitas Banjar. Namun, dengan cita rasanya yang gurih dan lezat, amparan tatak dapat dinikmati oleh publik secara luas tanpa batasan etnis, agama, kelompok, dan golongan, sehingga menjadi kuliner ikonis dan legendaris di Kota Samarinda,” ujar sejarawan yang menulis buku Histori Kutai tersebut.

Dalam penghidangannya, amparan tatak disajikan pada acara-acara kolosal atau yang melibatkan partisipasi orang banyak, seperti resepsi pernikahan, perayaan hari besar agama, buka puasa bersama.

“Dengan begitu, amparan tatak menyimbolkan kuliner pemersatu masyarakat,” kata Sarip.

Simpulan penelitian Sarip adalah amparan tatak sebagai kuliner khas Samarinda merupakan ikonik budaya takbenda yang perlu dilestarikan karena adanya muatan nilai kultural dan aspek historis yang melekat pada kudapan berbahan utama tepung beras, santan, dan pisang talas tersebut.

Uniknya lagi, dulu tahun 1970-an amparan tatak buatan orang tuanya Maskota di Samarinda Seberang dijajakan oleh Hajjah Hatim di Samarinda Kota. 

"Tiap pagi Hajjah Hatim menumpang tambangan menyeberang ke Samarinda Kota, lalu berjualan amparan tatak dan kue basah lainnya keliling berjalan kaki,” tambah Sarip.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved