Tribun Kaltim Hari Ini
Produsen Minuman Alkohol di Amerika Diminta Cantumkan Peringatan Risiko Kanker
Kepala Ahli Bedah Umum Amerika Serikat, Vivek Murthy, menyerukan pembaruan label pada kemasan minuman beralkohol
Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Diah Anggraeni
TRIBUNKALTIM.CO, WASHINGTON DC – Kepala Ahli Bedah Umum Amerika Serikat, Vivek Murthy, menyerukan pembaruan label pada kemasan minuman beralkohol untuk mencantumkan peringatan risiko kanker.
Langkah ini digadang-gadang menjadi awal regulasi gaya tembakau untuk industri alkohol jika disetujui.
Murthy menyatakan bahwa konsumsi alkohol meningkatkan risiko sedikitnya tujuh jenis kanker, termasuk kanker payudara, hati, dan usus besar. Namun, banyak konsumen yang masih tidak menyadari fakta ini.
Dilansir Reuters, dalam laporan terbarunya, Murthy menekankan bahwa alkohol adalah penyebab kanker ketiga yang dapat dicegah di AS, setelah tembakau dan obesitas.
Ia juga mendorong revisi pedoman konsumsi alkohol agar masyarakat dapat mempertimbangkan risiko kesehatan sebelum memutuskan untuk minum.
Saat ini, pedoman diet AS merekomendasikan konsumsi maksimal dua minuman per hari untuk pria dan satu minuman untuk wanita.
Baca juga: Terjawab Sudah Kapan Donald Trump Dilantik, Cek Tanggal Pelantikan Presiden Amerika Serikat
Menurut Murthy, risiko kanker tidak bergantung pada jenis alkohol yang dikonsumsi atau batasan tersebut.
Pernyataan ini langsung memicu gejolak di pasar saham. Saham produsen alkohol besar seperti Diageo, Heineken, dan Anheuser-Busch InBev mengalami penurunan hingga lebih dari 3 persen.
Sementara itu, Dewan Minuman Keras AS (DISCUS) mengutip laporan terpisah yang menyebutkan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah sedang dikaitkan dengan tingkat kematian lebih rendah, meskipun risiko kanker tertentu meningkat.
“Label peringatan kesehatan yang sudah ada memberikan informasi penting, dan kami tidak mendorong konsumsi alkohol untuk alasan kesehatan,” ujar Amanda Burger, Wakil Presiden DISCUS.
Sejak 1988, minuman beralkohol di AS sudah mencantumkan peringatan kecil mengenai risiko seperti cacat lahir akibat konsumsi alkohol saat hamil.
Namun, Murthy mengusulkan pembaruan pada label ini, meskipun belum ada kejelasan kapan atau apakah rekomendasi ini akan diadopsi.
Baca juga: Amerika Serikat di Balik Pusat Komando Terpadu IKN Kaltim, Libatkan 7 Raksasa Teknologi Dunia
Keputusan untuk memperbarui label akan bergantung pada Kongres, yang saat ini berada dalam masa transisi pemerintahan.
Presiden terpilih Donald Trump, yang dikenal anti-alkohol karena pengalaman pribadi dengan keluarganya, diperkirakan akan memengaruhi diskusi ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang aman.
Bahkan, jumlah kecil sekalipun dapat meningkatkan risiko kanker.
Namun, pernyataan ini menimbulkan perdebatan sengit di kalangan ilmuwan dan industri alkohol.
“Label peringatan mungkin tidak berdampak langsung pada penjualan, tetapi dalam jangka panjang, ini bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap alkohol,” kata Blake Droesch, analis eMarketer. (kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Minuman-alkohol.jpg)