Senin, 18 Mei 2026

Opini Anak

Anak Clumsy atau Ceroboh, Apakah Berbahaya?

Kegagalan tersebut berimbas pada fungsi akademik, sosial dan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut setelah dilakukan pemeriksaan terhadap anak oleh

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Martinus Wikan
Istimewa
dr Annisa Muhyi (Dosen FK Universitas Mulawarman/Dokter Spesialis Anak Samarinda) 

Oleh 
Annisa Muhyi
(Dosen FK Universitas Mulawarman/Dokter Spesialis Anak Samarinda)

ANAK clumsy atau ceroboh sebenarnya  sering dijumpai di sekolah atau di rumah. Anak usia 5 tahun belum bisa melakukan keterampilan gerakan kasar atau halus sesuai anak seusianya. Kita sebut saja A, belum bisa mengancingkan baju, mengikat tali sepatu, tidak pandai menggunakan sendok dan garpu saat makan, menangkap bola, mengendarai sepeda roda dua dan lain-lain seperti anak seusianya. 

Kondisi itu yang disebut clumsy atau ceroboh. Orang tua dan guru biasanya tidak menyadari masalah tersebut dan menganggap bahwa hal itu biasa dan seiring waktu akan membaik.  

Diagnosis clumsiness dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5) disebut developmental coordination disorder (DCD). Kriteria diagnosis terdiri dari beberapa kriteria yaitu anak gagalan menguasai keterampilan gerak kasar dan atau halus. 

Kegagalan tersebut berimbas pada fungsi akademik, sosial dan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut setelah dilakukan pemeriksaan terhadap anak oleh dokter, bukan disebabkan kelainan neurologis atau disabilitas intelektual. Kejadian developmental coordination disorder sekitar 5-6 persen anak usia sekolah. 

Anak laki-laki lebih sering mengalami DCD dibandingkan perempuan. Masalah akan muncul saat anak masuk sekolah dasar yaitu usia 5-11 tahun. Guru menyadari bahwa anak pandai namun gagal dalam menyelesaikan tugas misalnya menulis, menggambar, menggunting, membuat garis lurus. 

Anak DCD akan kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik misalnya olahraga (melempar bola, menangkap bola, menggiring bola dan lain-lain) dibandingkan teman sekelasnya. Masalah keterampilan gerak ini akan mengganggu aktivitas di rumah contohnya anak gagal mengancingkan baju, mengikat tali sepatu, makan dengan sendok dan garpu. 

Ayah dan bunda diharapkan mampu mengenali masalah anak DCD sebelum timbul dampak sekunder. Beberapa literatur menyebutkan anak DCD akan  memilih untuk tidak bermain aktivitas fisik bersama anak seusianya karena merasa kurang cakap atau teman tidak menerima bermain dalam satu kelompok. 

Teman menganggap si anak adalah trouble maker dalam permainan mereka. Akhirnya, anak DCD timbul rasa cemas dan kurang percaya diri dari penolakan tersebut. Mari kita kenali secara benar kondisi anak kita saat di rumah dan di sekolah.

Orang tua dan guru harus berperan membantu kesulitan yang mereka hadapi bukan menjadi tambahan beban secara sosial. Bawalah anak anda ke dokter apabila ditemukan kecurigaan kearah DCD. Kondisi DCD yang ringan dapat diberikan latihan di rumah tetapi DCD berat memerlukan intervensi dari terapis. (*)

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved