Senin, 18 Mei 2026

Berita Tarakan Terkini

Pengamat Ekonomi Tarakan Analisis Dampak Rupiah Melemah ke Rp17.000

Rupiah tembus Rp17 ribu, akademisi UBT Tarakan sebut kondisi ini beda jauh dengan krismon 1998 karena inflasi dan pangan aman.

Tayang:
HO
NILAI TUKAR RUPIAH - Akademisi Universitas Borneo Tarakan, Dr. Margiyono yang menjabat sebagai dosen Fakultas Ekonomi UBT ikut memberikan perspektif nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terjadi saat ini. (HO) 

Ringkasan Berita:
  • Pengamat UBT menjelaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini jauh lebih kuat dengan pertumbuhan positif 5,61 persen dan cadangan devisa yang melimpah.
  • Selama stok pangan domestik tersedia dan permintaannya stabil, pelemahan nilai tukar tidak akan memicu krisis pangan terarah.
  • Dampak negatif yang wajib diantisipasi adalah lonjakan harga bahan baku impor yang berpotensi menaikkan biaya produksi dalam negeri.

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini telah melampaui angka Rp17.000.

Kendati demikian, pelemahan ini dinilai tidak akan berdampak sistemik selama pasokan pangan domestik dan inflasi inti tetap terjaga. 

Namun, pemerintah dan pelaku usaha diminta tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga barang-barang berbasis impor (import resort-oriented) yang berpotensi mengerek harga produk di dalam negeri.

Perspektif dan sudut pandang mendalam ini disampaikan oleh Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono.

Baca juga: Prabowo Dinilai Anggap Enteng Lemahnya Rupiah, Ekonom: Sikap Seperti Ini Sangat Membahayakan Ekonomi

Menurutnya, nilai tukar rupiah atas dolar naik tidak berdampak selama stok pangan tersedia berdampak inflasi stabil.

Namun yang perlu diwaspadai adalah dampaknya terhadap impor.

Melalui wawancaranya, Margiyono menjelaskan, jika dibandingkan secara nominal, ia berada di atas nilai rupiah terhadap dolar pada tahun 1998.

Tetapi untuk melihat nilai itu secara objektif, harus mengkomparasi beberapa variabel yang mendampingi atau yang berada di sekitar nilai tukar rupiah pada tahun 1998 pada saat terjadi krisis moneter dan saat ini.

Baca juga: DPR Sepakat dengan Prabowo soal Rupiah: yang Kena Dampak Dollar Orang Berduit, Bukan Warga Desa

"Pada saat terjadi krisis monetar tahun 1998, memang rupiah berada pada kisaran Rp16.000 lebih. Dan ia diwarnai oleh beberapa variabel ekonomi yang memang boleh dikatakan relatif berisiko ya kalau mungkin agak rapuh begitu. Kerapuhan itu misalnya pada saat itu cadangan devisa Indonesia itu hanya sekitar antara Rp14.000 sampai dengan Rp16.000 miliar dolar," lanjutnya.

Kemudian pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus, kurang lebih itu hampir 11 persen.

Kemudian inflasi saat itu hampir 60 persen. 

Dan yang mengalami krisis pada saat itu adalah relatif sedikit, yaitu hanya negara Indonesia dengan Thailand.

Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat, Harga Barang Bisa Naik hingga Ancaman PHK

Sementara berbeda dengan kondisi saat ini di mana meskipun rupiah berada pada titik yaitu lebih dari Rp17.000-Rp17.200-an, pertumbuhan ekonomi positif yaitu 5,61 persen.

"Terus inflasi kita juga berada di bawah 3 yaitu hanya sekitar 2,6 sampai di bawah 3 persen maksud saya begitu. Bahkan inflasi intinya terus terjaga. Jadi inflasi inti itu adalah inflasi yang menunjukkan yaitu denyut harga pangan. Di mana pangan tersedia, permintaannya stabil, maka harganya cenderung stabil," ungkapnya.

Sehingga jika inflasi inti itu terus terjaga artinya tidak ada persoalan dengan pangan karena produksinya terus berjalan sementara permintaannya juga terus berjalan.

Sumber: Tribun kaltara
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved