Berita Berau Terkini
Petani Kakao di Berau Kaltim Kembali Dibekali Ilmu Hadapi Hama dan Tantangan Iklim
Petani kakao di Kabupaten Berau kembali mendapatkan bekal penting untuk menghadapi serangan hama, penyakit tanaman, hingga tantangan perubahan iklim.
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Miftah Aulia Anggraini
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Petani kakao di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kembali mendapatkan bekal penting untuk menghadapi serangan hama, penyakit tanaman, hingga tantangan perubahan iklim.
Dinas Perkebunan (Disbun) Berau pun menggelar Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) tahun 2025, yang menyasar dua kampung sentra produksi kakao, yakni Kampung Suaran dan Kampung Lesan Dayak.
Pelatihan ini dinilai krusial dalam membangun kembali kapasitas petani yang sempat melemah, terutama akibat jeda pelatihan yang cukup panjang dan tantangan lapangan yang makin kompleks, seperti banjir yang kini datang lebih sering.
“Petani banyak yang sudah lama enggak ikut pelatihan, jadi banyak yang lupa cara mengelola dengan baik. Ditambah lagi masalah bibit, pupuk, dan obat-obatan,” ujar Kepala Bidang Perlindungan Disbun Berau, Heri Suparno kepada Tribunkaltim.co, Rabu (28/5/2025).
Baca juga: Banjir di Berau Kaltim Rusak 500 Hektare Kebun Kakao, Produksi Terancam Turun Drastis
Menurutnya, banjir kini menjadi salah satu ancaman utama bagi keberlangsungan kebun kakao.
Jika sebelumnya hanya terjadi lima tahun sekali, kini air bah bahkan bisa melanda hampir tiap bulan, khususnya kebun-kebun yang berada di bantaran sungai.
“Terutama di kebun-kebun yang letaknya berada di bantaran sungai, pasti terdampak,” sebutnya.
Kegiatan SLPHT tahun ini hanya bisa dibuka untuk dua kelas, masing-masing di Kampung Suaran dan Kampung Lesan Dayak, dengan 25 peserta per kampung.
Pembelajaran dilakukan 14 kali pertemuan, seminggu sekali.
Baca juga: Banjir Rendam 9 Kampung di Berau Kaltim, Sentra Kakao Terancam Gagal Panen
Jumlah ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai empat kelas, imbas dari efisiensi anggaran.
“Pesertanya 25 orang per kampung, jadi satu kelas satu kampung. Pertemuan dilakukan 14 kali, setiap minggu sekali,” jelas Heri.
Kampung Suaran dipilih karena menjadi wilayah dengan luas kebun dan produktivitas kakao tertinggi di Berau.
Sementara Kampung Lesan Dayak kembali menjadi lokasi pelatihan setelah sempat lama tidak mengikuti SLPHT.
Baca juga: Bupati Berau Sri Juniarsih Mas Paparkan Potensi Kakao di Bumi Batiwakkal
SLPHT ini juga merupakan bentuk kesepakatan (MoU) antara Disbun dan pemerintah kampung untuk konsisten dalam membina komoditas unggulan daerah.
Semua narasumber yang mengisi pelatihan berasal dari Disbun Berau dan telah memiliki lisensi sebagai pemandu lapang.
petani
kakao Berau
Disbun Berau
Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)
Berau
Kalimantan Timur
TribunKaltim.co
| Bupati Berau Soroti Sampah di Gunung Tabur, Sri Juniarsih: Saya Lihat Setiap Hari Tak Nyaman |
|
|---|
| 8 Kampung di Kelay Masih Berkembang, Berau Bentuk Tim Percepatan Kejar Desa Mandiri |
|
|---|
| Telkom Tingkatan Kualitas Layanan Telekomunikasi di Berau, Bandwidth di Pulau Derawan Ditambah |
|
|---|
| Target Investasi Berau 2026 Diusulkan Rp8 Triliun, DPMPTSP Optimistis Capai Realisasi |
|
|---|
| Disbudpar Berau Rancang Spot Wisata Baru di Labuan Cermin untuk Kurangi Kepadatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250528-Petani-kakao-di-Kabupaten-Berau.jpg)