Selasa, 5 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Malam Penuh Misteri: Tradisi Jawa dan Kepercayaan Seputar 1 Suro

Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram.

Tayang:
Editor: Yara Tahnia
TribunJogja.com/Hasan Sakri Ghozali
MALAM 1 SURO - Sejumlah keluarga dan abdi dalem Pura Mangkunegaran melakukan kirab pusaka untuk peringati Malam 1 Suro dengan cara mengelilingi benteng di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (06/12/2010) lalu. Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Namun, nuansa mistis yang melekat pada Malam 1 Suro bukanlah tanpa alasan. (TribunJogja.com/Hasan Sakri Ghozali) 

TRIBUNKALTIM.CO - Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Namun, nuansa mistis yang melekat pada Malam 1 Suro bukanlah tanpa alasan.

Dalam tradisi Jawa, 1 Muharram dikenal sebagai Malam 1 Suro dan memiliki makna tersendiri yang berbeda dengan pandangan dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, tanggal 1 Muharram merupakan hari suci yang menandai awal tahun baru Hijriah.

Sebaliknya, budaya Jawa memperlakukan malam ini sebagai momen sakral dengan nuansa mistis yang kuat.

Meskipun secara waktu sama, penyebutan dan cara memperingatinya berbeda.

Menurut budaya Jawa, Malam 1 Suro menjadi momen yang dihormati dengan berbagai ritual dan tradisi berunsur spiritual dan supranatural.

Baca juga: Kapan Malam 1 Suro 2025? Bertepatan Malam Jumat Kliwon, Sejarah dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa

Di sisi lain, umat Islam menyambut 1 Muharram dengan makna kesucian dan refleksi spiritual.

Menurut Tribun Jakarta dan referensi dari buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa (2010) karya Muhammad Solikhin, istilah "Suro" berasal dari kata Arab "Asyura" yang berarti "sepuluh", merujuk pada tanggal 10 di bulan Muharram.

Meskipun berasal dari akar yang sama, makna dalam praktik budaya Jawa telah bergeser menjadi lebih kental dengan unsur mistik.

Budaya keraton menjadi salah satu faktor penting mengapa bulan Suro dianggap suci dalam masyarakat Jawa.

Muhammad Solikhin menyebut bahwa keraton-keraton di Jawa kerap menggelar ritual khusus untuk memperingati hari-hari besar, termasuk Malam 1 Suro, yang kemudian menjadi warisan budaya turun-temurun.

Lebih jauh lagi, nuansa mistis ini juga dipengaruhi oleh kebijakan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada periode 1628–1629.

MALAM 1 SURO - Sejumlah keluarga dan abdi dalem Pura Mangkunegaran melakukan kirab pusaka untuk peringati Malam 1 Suro dengan cara mengelilingi benteng di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (06/12/2010) lalu. Kapan malam 1 Suro 2025? Bertepatan dengan Malam Jumat Kliwon, simak sejarah dan makna bagi masyarakat Jawa. (TribunJogja.com/Hasan Sakri Ghozali)
MALAM 1 SURO - Sejumlah keluarga dan abdi dalem Pura Mangkunegaran melakukan kirab pusaka untuk peringati Malam 1 Suro dengan cara mengelilingi benteng di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (06/12/2010) lalu. Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Namun, nuansa mistis yang melekat pada Malam 1 Suro bukanlah tanpa alasan. (TribunJogja.com/Hasan Sakri Ghozali)

Setelah mengalami kekalahan dalam penyerbuan ke Batavia, Sultan Agung melakukan introspeksi dan mencoba menyatukan rakyatnya yang terbagi ke dalam berbagai kepercayaan.

Ia pun memperkenalkan kalender Jawa-Islam, hasil kombinasi antara kalender Saka dari tradisi Hindu dan kalender Hijriah dari Islam.

Selain itu, masyarakat Jawa pada masa itu masih sangat terpengaruh oleh unsur-unsur kepercayaan kuno seperti animisme, dinamisme dan tradisi Hindu.

Hal ini terlihat dari penggunaan sesaji serta ritual spiritual dalam menyambut Malam 1 Suro yang terus dilestarikan hingga kini.

Mitos dan Fakta Malam Satu Suro

1. Bulan Muharram termasuk bulan haram

Dalam agama Islam, bulan Muharram (dikenal orang Jawa sebagai bulan Suro) adalah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.

Dalam firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci).Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At Taubah: 36).

Baca juga: Malam 1 Suro Tradisi Sakral dalam Budaya Jawa, Ini 5 Mitos dan Pantangan yang Masih Diyakini

Menurut Abu Bakroh, Nabi Muhammad S.A.W bersabda, "Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Artinya dalam satu tahun ada 12 bulan, di antara ada empat bulan haram (suci). Bulan tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban." (HR. Bukhari)

Lalu kenapa bulan tersebut disebut bulan haram?

Menurut Al Qodhi Abu Ya’la ahimahullah, ada dua makna bulan haram.

Pertama bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan.

Kedua adanya larangan berbuat buruk ditekankan karena bulan ini lebih baik dari bulan lainnya.

2. Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Nabi Muhammad S.A.W bersabda, "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram.

Sementara salat yang paling utama setelah shalat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim)

Baca juga: 60 Ucapan Tahun Baru Islam 2025 Paling Unik untuk Sambut 1 Muharram 1447 H

3. Misteri Malam satu Suro menurut Islam

Dalam ajaran Islam, mencela waktu termasuk bulan hukumnya adalah haram.

Mencela termasuk kebiasaan orang-orang kafir jahiliyah. Mereka menganggap, yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu.

Allah pun mencela perbuatan mereka ini, sebegaimana pernah dijelaskan dalam firman-Nya,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24). (*)

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved