Berita Samarinda Terkini
Ruang Kelas Rusak, SMP Negeri 13 Samarinda Harapkan Bantuan Pemerintah
Dibalik menjadi favorit warga Lempake, SMP Negeri 13 Samarinda mengalami rusak di beberapa ruang kelas yang dinilai cukup serius.
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Amelia Mutia Rachmah
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menjalani masa SPMB dan MPLS SMP Negeri 13 Samarinda, yang berlokasi di Jalan Sukorejo, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara ini, mengalami rusak di beberapa ruang kelas yang dinilai cukup serius.
Tiap tahun, jumlah pendaftar di SMP Negeri 13 Samarinda ini terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan permukiman baru di kawasan tersebut, seperti Perumahan Korem dan beberapa kompleks lainnya.
Namun, di tengah tingginya animo masyarakat terhadap sekolah ini, kondisi infrastruktur di beberapa titik justru menunjukkan keprihatinan.
Berdasarkan pantauan langsung Tribunkaltim.co, ruang kelas di SMPN 13, khususnya kelas VIII-H, menunjukkan kerusakan yang cukup serius. Ruang kelas yang terletak di depan ruang guru, di sisi kanan dan bersebelahan dengan gudang ini, tetap digunakan sebagai tempat belajar karena keterbatasan ruang yang dimiliki sekolah.
Ruangan yang diisi sekitar 30-an siswa tersebut menggunakan meja dan kursi berbahan kayu. Dinding kelas berwarna hijau tosca terlihat mengelupas di bagian bawah akibat banjir yang kerap melanda sekolah, terutama saat musim hujan.
Baca juga: 100 Calon Siswa Sekolah Rakyat Jalani Tes Kesehatan, Asa Randi Tumbuh di Stadion Segiri Samarinda
Selain itu, lantai semen pada kelas itu tampak rusak cukup parah, terlebih di bagian sudut ruangan. Banjir yang sering masuk membawa pasir yang kemudian mengendap dan berubah menjadi debu saat kering, menyebabkan ruang kelas menjadi kotor.
Di bagian lain ruang kelas, jendela terlihat terlepas dari engselnya. Sementara itu, plafon dalam ruang kelas sudah jebol, dan bagian luar plafon pun tampak lapuk serta banyak yang kropos.
Beberapa siswa terlihat mengipas diri dengan buku tulis saat proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini terjadi karena kipas angin di dalam kelas jarang digunakan akibat debu yang mudah beterbangan ketika dinyalakan.
Melihat kondisi tersebut, Wakil Kepala Kesiswaan SMP Negeri 13 Samarinda, Suhadiyono, mengungkapkan bahwa pihak sekolah membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk melakukan perbaikan fisik bangunan.
"Sebenarnya ada juga yang kelas-kelas yang kurang layak lah menurut kami, perlu perbaikan," kata Suhadiyono saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/7/2025).
Baca juga: SMP Negeri 13 Samarinda Terima 272 Siswa, Jadi Favorit Warga Lempake
Menurutnya, saat ini setidaknya ada dua ruang kelas yang mengalami kerusakan cukup parah. Untuk mengatasi kekurangan ruang belajar, pihak sekolah terpaksa menggunakan laboratorium IPA sebagai ruang kelas.
Bahkan aula yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan umum kini disekat dan difungsikan menjadi gudang serta ruang kelas untuk menampung jumlah siswa yang terus bertambah.
"Siswa ke sekolah kita ini semakin besar, makin tahunnya makin banyak yang ke sini. Jadi perlu tambahan lokal yang banyak, akhirnya kita sekat itu jadi tiga lokal," jelasnya.
Namun sayangnya, dari tiga ruang hasil penyekatan tersebut, hanya satu yang masih bisa difungsikan. Satu ruangan lainnya dijadikan gudang untuk menyimpan meja dan kursi yang sudah tidak layak pakai.
Suhadiyono menyebut bahwa pertumbuhan jumlah siswa tidak dapat dibendung seiring dengan pembangunan kawasan perumahan di Lempake. Oleh karena itu, pihak sekolah memaksimalkan kapasitas ruang dengan menambah jumlah siswa per kelas.
Baca juga: Tantangan Literasi di SMP Negeri 5 Long Bagun Mahulu, Guru Racik Strategi
"Makanya kita up lagi. Mau gak mau kita maksimalkan jadi 34 itu per ruang," ucapnya.
Selain persoalan ruang kelas, kondisi lapangan sekolah juga menjadi perhatian. Lapangan yang masih berupa tanah akan menimbulkan debu saat kemarau dan menjadi becek ketika hujan. Hal ini menyulitkan pelaksanaan kegiatan olahraga maupun aktivitas luar kelas lainnya.
"Kemudian lapangan, harapan kami lapangan ini bisa kami semenisasi," tambah Suhadiyono.
Tidak hanya itu, setiap kali banjir melanda, siswa dan guru harus bergotong royong membersihkan ruang kelas dari lumpur dan pasir. Namun, jika kondisinya terlalu parah, pihak sekolah harus meminta bantuan dari petugas Pemadam Kebakaran untuk melakukan penyemprotan.
"Kadang-kadang juga kami panggil dari pemadam. Kita bantu untuk semprot itu. Karna sudah lengket itu kan nggak bisa. Harus pakai mesin," terangnya. (*)
Ikuti berita populer lainnya di Google News, Channel WA, dan Telegram.
| AMM Kaltim Gelar Silaturahmi, Walikota Samarinda Andi Harun Tekankan Peran Pemuda Menyongsong Zaman |
|
|---|
| Menag Nasaruddin Umar Hadiri Tabligh Akbar Samarinda, Tekankan Peran Masjid Jadi Simbol Perdamaian |
|
|---|
| Unmul Samarinda Catat Peningkatan Prestasi Nasional dan Internasional Usai Wisuda 1.617 Lulusan |
|
|---|
| Lampu Panggung Kembali Menyala, Kebangkitan Teater Mahardika Samarinda via RT Nol RW Nol |
|
|---|
| Dishub Samarinda Perluas CFD, Mulai Besok Jalan Anggi Ditutup Total Tiap Akhir Pekan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250715_SMP_Negeri_13_Samarinda_rusak_foto2.jpg)