Sabtu, 2 Mei 2026

Tribun Kaltim Hari Ini

Beras Premium Mendadak Raib, Merek-Merek Ternama Lenyap di Tengah Isu Oplosan

Sejumlah merek beras terkenal diduga dioplos dan tidak memenuhi standar mutu, sebagaimana diungkap Kementerian Pertanian dalam temuan terbarunya.

Tayang:
Tribun Kaltim
BERAS OPLOSAN - Cover halaman 1 koran Tribun Kaltim edisi hari ini, Rabu (16/7/2025). Membahas beras premium mendadak raib di Balikpapan dan Samarinda di tengah isu oplosan (Tribun Kaltim) 

TRIBUNKALTIM.CO - Isu dugaan pengoplosan beras kembali mencuat dan memicu kekhawatiran masyarakat.

Sejumlah merek beras terkenal diduga dioplos dan tidak memenuhi standar mutu, sebagaimana diungkap Kementerian Pertanian dalam temuan terbarunya.

Beras-beras tersebut sebelumnya dijual secara luas di gerai-gerai ritel modern seperti Indomaret,
Alfamart, dan Alfamidi.

Namun kini, khususnya di wilayah Samarinda Utara, beberapa merek beras premium itu tak lagi tampak menghiasi rak display bersama bahan pokok lain seperti gula dan minyak goreng.

Beras dengan merek Sania, Fortune, Medium Pandan Wangi, Beras Pulen Wangi, dan Setra Ramos yang biasanya tersedia dengan mudah di rak beras, kini menghilang dari peredaran.

Baca juga: Minimarket di Samarinda Klaim tak Ada Beras Oplosan, BPOM Belum Tinjau dan Beri Informasi

Absennya merek-merek tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terlebih di tengah isu beras oplosan yang makin menyeruak dan menyedot perhatian publik.

Tribun Kaltim mencoba menelusuri ketersediaan beras di sejumlah toko ritel modern di kawasan
Samarinda Utara.

Hasilnya, hampir semua toko tidak lagi menjual beras putih premium. Yang tersisa hanyalah beras merah, sementara rak-rak beras putih tampak kosong.

"Sudah habis, belum ada pengiriman lagi," ujar seorang karyawan toko ritel modern yang enggan
disebutkan namanya saat ditemui, Senin (15/7).

Ia menambahkan bahwa beberapa merek beras telah ditarik dari peredaran sejak dua hari yang lalu.

Penarikan ini dilakukan di berbagai gerai ritel modern, termasuk Indomaret, Alfamart, dan Alfamidi.

Namun demikian, sebagian toko mengaku sudah lebih dulu kehabisan stok sebelum penarikan dilakukan.

"Kita nggak tau kapan lagi datangnya. Semua Indomaret, Alfamart juga begitu," lanjutnya

Menurutnya, hingga saat ini pihak toko belum menerima informasi resmi terkait jadwal pengiriman ulang atau alasan pasti penarikan.

"Tapi kemarin di sini sudah terjual semua. Ditarik gara-gara beras oplosan kah atau apa, kita kurang tahu juga," katanya.

Stok Beras

Ketersediaan beras non-subsidi di sejumlah gerai ritel modern di Kota Balikpapan mulai sulit ditemukan.

Hasil pemantauan di berbagai lokasi menunjukkan bahwa hanya sedikit ritel modern maupun swalayan yang masih menyediakan stok beras.

Di salah satu gerai di Jalan Mulawarman, kawasan Sepinggan, Balikpapan Selatan, stok beras bahkan
tidak tersedia sama sekali.

Dari tiga ritel yang berada di ruas jalan yang sama, hanya satu yang masih menampilkan stok beras di rak, dan itu pun terbatas pada beberapa merek yang masuk dalam daftar produk bermasalah.

Di rak khusus beras tersebut, tampak hanya tiga jenis beras non-subsidi yang masih dipajang, yakni Beras Premium Setra Ramos, Raja Platinum, dan Mentari.

Dua di antaranya, yakni Setra Ramos dan Raja Platinum, diketahui masih dijual dengan harga sekitar Rp 74 ribu per kemasan.

Saat dikonfirmasi, seorang karyawan yang bertugas di toko tersebut mengaku belum mendapat arahan untuk menarik produk-produk beras tersebut dari etalase.

"Masih di suruh jual. Belum ada disuruh buat tarik ke gudang sih," ujar pegawai berseragam merah berlis kuning tersebut.

Tidak jauh dari lokasi ritel itu, sebuah swalayan besar yang memiliki banyak cabang di Balikpapan
terlihat masih menjual beras, namun hanya beberapa merek tertentu yang tersedia.

Beras-beras premium yang dikabarkan tidak sesuai regulasi tidak lagi ditemukan di rak penjualan
swalayan tersebut.

Menurut pengamatan di lokasi, swalayan itu hanya menyediakan beras merek Tanak, 2 Jempol, Mawar Melati, dan Ikan Sembilang. Semua produk dijual dalam kemasan 5 kg dan 25 kg.

Seorang pegawai swalayan yang sedang menata produk,, mengungkapkan bahwa belakangan ini pihaknya memang hanya menjual merek-merek tersebut.

Dia mengakui, beberapa stok lainnya sudah dipindahkan ke gudang.

"Sebagian sudah disimpan ke gudang. Dibilangin nggak bisa dijual, nggak tahu kenapa. Kalau kadaluarsa, nggak juga," jelasnya.

Hanya saja, dia tidak hapal betul merk-merk yang kini sudah ditarik mundur dari penjualan.

Ia menambahkan bahwa penyimpanan kembali beras-beras itu ke gudang sudah dilakukan hampir
seminggu terakhir.

"Katanya sih mau ditarik (ke pusat)," imbuhnya.

Baca juga: Warga di Samarinda Sebut Nasi dari Beras Oplosan Cepat Basi

Belum Ditemukan

Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmani, menegaskan bahwa pihaknya belum menemukan indikasi adanya beras oplosan di pasar tradisional maupun toko-toko distribusi.

Pemantauan ketat dilakukan secara rutin untuk memastikan ketersediaan stok, kestabilan harga, dan kualitas barang kebutuhan pokok, termasuk beras.

“Sampai saat ini saya komunikasikan dengan petugas kami di pasar, tidak ada mendengar beras oplosan itu,” kata Yama, sapaan akrabnya pada Tribun Kaltim, Selasa (15/7).

Menurutnya, stok beras di Kota Samarinda dalam kondisi stabil dan aman. Pemerintah rutin melakukan peninjauan melalui tim pengendalian inflasi, terutama dengan melihat indikator ketersediaan stok di gudang Bulog.

“Jadi Bulog untuk beras labelisasi SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), pasokan harga dan
pangan itu sekitar di Rp 62 ribu. Kalau di posisi harga di toko inflasi pemerintah, ada stok ke situ. Di
pasar pun ada,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa harga eceran tertinggi (HET) beras di pasar berada pada kisaran Rp 65 ribu per lima kilogram, dan untuk beras premium sekitar Rp 75 ribu, masih dalam batas yang wajar.

“Kalau di pasar pakai HET Rp 65 ribu. Tidak boleh lebih. Kondisinya pun bagus di pasar. Kemudian
ditambah dengan beras kita yang premium, namun menurut saya harganya tidak terlalu jauh juga, sekitar Rp 75 ribu dengan kualitas yang baik,” ujarnya.

Yama mengakui bahwa isu soal beras oplosan bukan hal baru dan kerap muncul di tengah masyarakat.

Bahkan di tahun-tahun sebelumnya pernah beredar informasi bahwa beras berbahan plastik dipasarkan sebagai beras konsumsi.

Namun, ia meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap kabar-kabar yang belum terbukti kebenarannya.

“Kalau pun dulu pernah ada isunya dicampur plastik seperti telur plastik, beras plastik, kita juga belum pernah menemukan. Kalau dibuat pun bahan plastik itu tentu produksinya susah dengan teknologi tidak biasa. Makanya kita juga harus bisa memilah kabar hoaks yang terjadi. Bisa memang persaingan bisnis juga,” jelasnya.

Menurutnya, kekhawatiran berlebihan hanya akan mengganggu ketenangan masyarakat. Apalagi daya beli warga Samarinda masih tergolong baik dan permintaan beras tetap stabil.

“Terkadang jangan salah juga, kadang-kadang beras oplosan tidak hanya di beras dengan harga yang
murah saja. Dulu pernah ada satu merek terkenal harganya mahal, ternyata isinya tidak enak. Tapi saat ini dengan daya beli masyarakat yang cukup juga, InsyaAllah aman. Ibaratnya ada rupa, ada harga,” terangnya.

Ia menegaskan kembali bahwa hingga kini, tidak ada laporan atau temuan tentang beras oplosan yang beredar di pasar-pasar Samarinda.

“InsyaAllah Samarinda aman saja,” tegasnya.

Dijelaskan Yama, beras yang beredar di Kota Samarinda sebagian besar berasal dari luar daerah, yaitu Sulawesi dan Pulau Jawa. Adapun pasokan dari produsen lokal belum menjadi penyumbang dominan dalam rantai distribusi.

“Sumber beras kita dari Sulawesi dan Jawa. Itu yang paling banyak. Kalau yang lokal biasanya tidak
secara keseluruhan. Informasi nya juga beras kita surplus. Masa ada indikasi dioplos?” ujarnya.

Mengenai pengawasan pengiriman antar pulau, Yama menuturkan bahwa hal tersebut menjadi domain instansi lain seperti bea cukai. Disdag hanya berperan dalam memastikan ketersediaan barang di tingkat distributor dan pasar lokal.

“Hanya saja kita memantaunya dari segi ketersediaan distributor. Misalnya stok kosong, kita tanyakan,” imbuhnya.

Untuk memastikan situasi pasar tetap terkendali, Disdag menurunkan petugas pemantau yang bertugas setiap hari di seluruh pasar milik pemerintah di Kota Samarinda.

Mereka memantau stok dan harga berbagai komoditas kebutuhan pokok seperti beras, cabai, tahu, tempe, sayur, hingga gas elpiji.

“Kebetulan kami ada pemantau di lapangan di setiap hari. Merekalah yang memberikan informasi, disebut sebagai survei stok dan harga. Misalnya cabai dan beras tiap harinya berapa. Rekapannya pun per minggu,” ungkapnya.

Disdag juga telah menyiapkan sistem informasi harga bahan pokok yang ditampilkan secara digital, salah satunya di Kantor Balai Kota Samarinda.

“Itu hasil survei dari teman-teman di lapangan. Sesuatu hal selalu dilaporkan. Kami komunikasikan setiap hari, dan semua aman. Stok aman dan tidak ada yang kosong,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yama menjelaskan bahwa fungsi utama pengawasan oleh Disdag bukan untuk menguji
keaslian produk, melainkan untuk memantau harga dan ketersediaan barang sebagai indikator stabilitas pasar.

“Bentuk pengawasan kami bukan untuk barang itu palsu atau tidak, tapi ketersediaan stok tentang harga, yang memang ini bisa menjadi barometer lainnya. Tapi tujuan utamanya untuk memastikan harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok,” pungkasnya.(ray/zyn/snw)

Ikuti berita populer lainnya di Google NewsChannel WA, dan Telegram.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved