Berita Berau Terkini
Susur Sungai Jadi Harapan Pariwisata Kampung Long Beliu Berau
Tidak ada suara bising kendaraan siang itu. Hanya ada suara aliran gemuruh sungai yang menghanyutkan, lengkap dengan suara serangga saling bersahutan
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Tidak ada suara bising kendaraan siang itu. Hanya ada suara aliran gemuruh sungai yang menghanyutkan, lengkap dengan suara serangga saling bersahutan.
Meski terik matahari luar biasa menyengatnya di dermaga Kampung Long Beliu, tetapi hutan-hutan yang mengelilingi kampung, seakan-akan membawa perasaan yang sejuk.
Sejauh mata memandang, yang ada hanya perpaduan hijaunya pepohonan, jernihnya sungai serta birunya langit.
Kayu-kayu di atas Sungai Kelay yang tersusun rapi menjadi sebuah dermaga di belakang Balai Adat Kampung Long Beliu.
Meski tak sesuai standar keselamatan, perahu kayu bermotor atau yang biasamya disebut ketinting menunggu penumpang untuk segera berangkat.
Tidak perlu jauh-jauh berbicara tentang standar dermaga. Bahkan masyarakat kampung Long Beliu tak menikmati listrik di tanah Berau yang selalu dikeruk Batu Baranya.
Baca juga: Element Estetis Jembatan Sambaliung, Ikon Baru Wisata Berau
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Long Beliu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, tak segan mengundang beberapa orang untuk melihat wisata susur sungai milik kampung.
Rombongan yang menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari Ibu Kota Berau, Tanjung Redeb, menjadi pelanggan pertama untuk melihat wisata susur sungai. Wisata ini digadang-gadang menjadi wisata primadona di Kawasan Kecamatan Kelay.
Sebelum naik ke ketinting, beberapa orang sibuk melepas sepatu dan menggantinya dengan sendal jepit sewaan. Beberapa orang lain, telah siap dengan palampung di badan.
Sebelum menaiki ketinting. Andy selaku pemandu dari Pokdarwis, meminta patuh pada perlengkapan keselamatan yang menjadi hal utama dalam prosesi susur sungai.
“Sebaiknya jangan pakai sepatu, lebih baik pakai sendal. Jika sewaktu-waktu kapal terbalik, akses kaki untuk bergerak lebih mudah di sungai,” Andy menjelaskan peringatan penting yang membuat wajah beberapa orang terkejut, belum lama ini.
Tiap ketinting, hanya boleh diisi tiga orang lengkap dengan satu motoris dan satu pemandu wisata. Satu persatu tiap orang menaiki ketinting dengan hati-hati.
Sebab jika tak hati-hati, bisa saja lumut menyebabkan tergelincir ke dalam sungai.
Rombongan telah siap, dan masing-masing motoris menyalakan mesin dengan menarik tuasnya.
Satu persatu ketinting pergi menjauhi dermaga. Ada lima ketinting yang berangsur pergi. Meski bergantian, jarak ketinting satu sama lain tak boleh terlalu jauh ataupun tertinggal.
Saat itu, dengan bisingnya suara mesin ketinting, pemandu wisata, Nefri yang berada di kapal nomor tiga mencoba menjelaskan lokasi pemberhentian pertama dalam wisata susur sungai itu. Tempat itu bernama Musang Bulu.
Jarak menuju Musang Bulu dari dermaga ,ditempuh kurang lebih 20 menit. Namun, rasanya seperti sekejap saja, tidak terasa lama. Hutan yang mengelilingi Kampung Long Beliu sangat memanjakan mata.
Meski tak banyak, sesekali kapal penambang emas illegal dan beberapa orang pekerja hadir ditengah-tengah perjalanan menjadi figuran di Sungai Gie yang merupakan anak sungai dari Sungai Kelay.
Terlihat juga, ladang masyarakat yang ditanami jagung dan padi pegunungan. Hutan bambu juga bertebaran selama perjalanan.
Ketinting yang ditumpangi menepi ke pinggir sungai. Di sana, sudah hadir hamparan bebatuan membentuk sebuah pulau kecil. Air sungai terasa dingin saat kaki menyentuh air sungai Gie, saat rombongan turun bergantian.
Nefri menjelaskan, jika sungai dalam keadaan surut, maka bebatuan bisa terlihat lebih banyak. Tetapi dihari itu, sungai sedang pasang dan air sungai sebenarnya sedang keruh.
Jika surut, biasanya masyarakat kampung Long Beliu sering menggunakan Musang Bulu sebagai lokasi piknik, camping atau sekedar bersantai.
“Biasanya kami orang kampung sering menggunakan untuk camping. Bakar-bakar ikan setelah memancing. Jadi kami ingin menjual kegiatan ini kepada para wisatawan,” Ia menjelaskan.
Jika ingin menghabiskan waktu di Musang Bulu, boleh lah datang di bulan Maret. Menurut Nefri itulah waktu yang sangat mendekati sempurna.
Apalagi, jika air sungai tidak tinggi kadangkala ikan banyak bertelur. Dan kumpulan ikan melompat-lompat dari sungai dan para masyarakat tinggal menjaringnya.
“Biasanya kami menyebutnya Ikan Naik Raja, tinggal kami jaring saja,” ungkapnya.
Bahkan, jika sedang musim buah durian, berdiri di bebatuan Musang Bulu saja, sudah bisa mencium aroma bau durian.
Tidak lama di Musang Bulu, lalu rombongan kembali naik ke perahu kayu ketinting itu. Perjalanan berlanjut menuju Lalut Bilah.
Hanya menempuh waktu sepuluh menit, rombongan lalu tiba di sana. Berbeda dengan di Musang Bulu, rombongan hanya duduk di atas ketinting. Meski hanya berdiam, namun seluruh perhatian rombongan tertuju pada tebing kars yang sedikit tertutupi pepohonan.
Tak jarang beberapa orang mendongak dan menyipitkan mata mencari fokus, untuk melihat lubang gua yang berada di atas tebing kars itu.
Lalut Bilah adalah sebuah gua kecil yang berada di tebing kars. Fungsinya untuk menaruh peti mayat dari para leluhur Suku Kenyah Umaq Baha.
Tengkoraknya masih ada di sana, lengkap dengan harta mereka yang ikut dikubur bersama pemiliknya.
Nefri mengakui, timnya akan mendalami riset untuk mengetahui berapa lama peti itu sudah terkubur di gua.
“Kalau mau masuk ke gua, harus satu persatu, karena mulut lubangnya kecil,” Nefri menjelaskan.
Baca juga: Duta Wisata dan Budaya Diminta Masif Promosikan Wisata Berau
Peti yang berada di dalam gua itu, hanya tersisa tiga. Sayangnya, rombongan tidak bisa melihat secara langsung. Tidak ada jalur tracking yang bersahabat untuk masyarakat yang tidak terbiasa mendaki.
Kedepannya, mereka berkomitmen untuk membangun tangga untuk memudahkan pendakian para wisatawan.
Masing-masing peti berada di berbeda tingkatan. Lalut Bilah memiliki 3 tingkatan. Jika ingin masuk ke dalam gua, ada beberapa pantangan. Tak boleh berkata kasar, tak boleh banyak bercanda, tak boleh tertawa terlalu keras.
Tak berlama-lama rombongan lalu pergi kembali menuju daratan, menempuh jalur sungai Gie lalu masuk ke aliran sungai Kelay, ditemani suara ketinting yang mengantar kami.
Sesampainya di daratan, Nefri kembali berbincang. Ia menyadari paket wisata mereka jauh dari kata sempurna. Meski begitu, Masyarakat Kampung Long Beliu memiliki mimpi besar untuk menjadi kampung ekowisata.
“Kami ingin ekowisata bisa menjadi sumber penghidupan kampung kami. Kami percaya bahwa peradaban yang besar tumbuh dari sungai,” tutupnya. (*)
| Gedung Walet RSUD Abdul Rivai Berau Lantai 2 dan 3 Belum Difungsikan, Butuh Lift Rp 5 Miliar |
|
|---|
| Masuk Lewat Jendela, Pencuri di Berau Tikam Pemilik Rumah, Kini Diburu Polisi |
|
|---|
| Setiap Kampung di Berau Dapat Dana Karbon dari Bank Dunia Sebesar Rp349 Juta |
|
|---|
| Pemkab Berau Genjot Potensi Perikanan, Ada Tiga Sektor yang Jadi Andalan |
|
|---|
| Dugaan Perampokan di Bedungun Berau, Korban Dipergoki dan Ditikam Pelaku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250803-Wisata-Susur-Sungai-Kampung-Long-Beliu.jpg)