Virus Corona
Virus Corona Terbukti Bukan dari Laboratorium Wuhan, Ini Tuntutan Ilmuwan China kepada Donald Trump
Shi Zhengli, pemimpin Pusat Penyakit Menular di Institut Virologi Wuhan membantah klaim sumber wabah Covid-19 berasal dari laboratoriumnya.
TRIBUNKALTIM.CO - Virus Corona terbukti bukan dari Laboratorium Wuhan, ini tuntutan ilmuwan China kepada Donald Trump.
Hal ini membuat ilmuwan Wuhan, China meminta Donald Trump minta maaf.
Hal itu buntut dari klaim Donald Trump yang menyebut Virus Corona berasal dari laboratorium di Wuhan yang bocor.
• Anies Baswedan Bocorkan Titik Paling Rawan Virus Corona di Jakarta, Bukan Pasar dan Tempat Hiburan
• Mempelai Pria Positif Corona, Akad Nikah Tetap Dilaksanakan, Penghulu Duduk di Tempat Khusus
• 47 Karyawan di Malinau Terinfeksi Virus Corona, Satgas Penanganan covid-19 Kaltara Akui Cluster Baru
• Sempat Bertemu Langsung, Jokowi Bakal Lakukan Tes Swab Setelah Achmad Purnomo Positif Corona
Seorang ilmuwan terkemuka dari laboratorium Wuhan, meminta agar Presiden AS, Donald Trump meminta maaf.
Hal itu buntut dari klaim Donald Trump yang menyebut Virus Corona berasal dari laboratorium di Wuhan yang bocor.
Shi Zhengli, pemimpin Pusat Penyakit Menular di Institut Virologi Wuhan membantah klaim sumber wabah covid-19 berasal dari laboratoriumnya.
Adapun, Shi juga mengecam pemerintah AS lantaran menghentikan pendanaan untuk penelitian bersama dengan para ilmuwan AS.
Shi menjelaskan, penyelidikan telah mengesampingkan kemungkinan virus itu bocor dari laboratorium.
Sebuah teori yang dipromosikan oleh beberapa pejabat AS, termasuk Trump sendiri.

Dia membantah, dirinya atau anggota timnya telah melakukan kontak dengan virus Sars-CoV-2 sebelum terdeteksi di kota akhir tahun lalu.
"Klaim Presiden AS Trump bahwa Sars-CoV-2 bocor dari kami institut benar-benar bertentangan dengan fakta."
"Ini membahayakan dan memengaruhi pekerjaan akademik dan kehidupan pribadi kita."
"Dia berutang permintaan maaf kepada kami," tutur Shi dalam majalah Science, dikutip Tribunnews dari SCMP.
Shi, dijuluki "wanita kelelawar" China karena penelitiannya tentang Virus Corona pada mamalia.
Dia juga mengecam keputusan keputusan National Institutes of Health pada bulan April untuk menghentikan pendanaan penelitian bersama dengan EcoHealth Alliance yang bermarkas di New York.
