Sabtu, 25 April 2026

Berita Samarinda Terkini

Profil Susilo Dwi Cahyo, Temukan Jati Diri Melalui Tari Kontemporer di Samarinda

Susilo Dwi Cahyo, seorang pria asal Kota Samarinda memilih jalan hidupnya untuk menekuni dunia tari kontemporer

TRIBUNKALTIM.CO/HO
Susilo Dwi Cahyo, pria kelahiran Samarinda, 11 Februari 1996, penggiat seni tari kontemporer asal Kota Samarinda saat menari di acara Exotica Kaltim di Kota Tua Jakarta bersama Tirto Foundation Desember 2022. TRIBUNKALTIM.CO/HO 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Susilo Dwi Cahyo, seorang pria asal Kota Samarinda memilih jalan hidupnya untuk menekuni dunia tari kontemporer.

Pilihan tersebut berangkat dari keresahan yang dimiliki.

Menurut pria yang akrab disapa Susilo ini, tari justru mengajarkannya soal kehidupan dan menemukan jati diri.

“Tidak ada yang dikatakan salah dalam menari kontemporer, dan aku pikir inilah tempat dimana aku bisa menemukan jati diri,” ungkapnya pada Kamis (6/7/2023).

Kepada TribunKaltim, pria kelahiran 11 Februari 1996 ini begitu antusias menceritakan kecintaannya terhadap tari kontemporer.

Baca juga: Profil Bella Bonita, Selebgram yang Dinikahi Denny Caknan Hari Ini, Akun Happy Asmara Diserbu Fans

Baca juga: Profil Bella Bonita, Calon Istri Denny Caknan yang Baru Dilamar, Tak Kalah Cantik dari Happy Asmara

“Aku juga banyak membaca buku tentang filsafat seni dan tari, saat itu aku semakin resah dan semakin ingin tahu bagaimana menciptakan simbol, abstrak, dan gerak namun bermakna, juga buah pikiran yang jauh lebih dalam namun dalam bentuk gerak dan karya,” katanya.

Menurutnya, gerak yang dihasilkan bukan hanya gerak semata namun juga penuh filosofi dan makna.

“Kelebihan kontemporer itu bisa mewakili perasaan manusia, dia yang paling dekat dengan kita, kita bisa bercerita lewat gerakan dan itu tanpa ada batasan,” ujar Susilo.

Kecintaannya tersebut berawal dari perkenalannya dengan dunia tari sejak di bangku sekolah menengah pertama.

“Dari bangku SMP suka tari-tarian, meskipun tidak mendalami, ibaratnya bukan menjadi hobi,” tuturnya.

Meski awalnya bukan menjadi hobi utama, namun takdir mengantarkan Susilo untuk mendalami seni tari lewat beasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“Awalnya mencoba daftar di beberapa PTN tapi gak lolos, meskipun aku gak mau fokus ke tari tapi aku coba, dan ternyata malah diterima dengan beasiswa di ISI Yogyakarta,” ungkapnya.

Keseriusa itu membuatnya banyak menghasilkan karya. Tak tanggung-tanggung ia menari hingga Mancanegara, namun itu tidak membuatnya puas.

Kini ia tengah menyiapkan karya kelahiran ‘anak’ keduanya di Kota Samarinda yang bertajuk “Mangatanian 2” dengan mengemas budaya Hudoq dalam konsep kontemporer.

“Setelah Mangatanian 1 yang di gelar di Samarinda, aku bersama penggiat seni lain tengah mempersiapkan pertunjukkan seni spirit dari kebudayaan Hudoq yang akan dikemas dengan konsep kontemporer,” sebutnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved