Iran Vs Amerika Memanas
Harga Minyak Dunia Melonjak, Subsidi BBM Malaysia Naik 4 Kali Lipat
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada beban fiskal negara.
Ringkasan Berita:
- Anwar Ibrahim menyebut subsidi BBM Malaysia melonjak lebih dari empat kali lipat, dari 700 juta menjadi 3,2 miliar ringgit dalam waktu kurang dari sepekan.
- Kenaikan dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz yang memengaruhi sekitar 20 persen distribusi global.
- Meski sebagai negara penghasil minyak, Malaysia tetap bergantung pada impor sehingga terdampak signifikan oleh krisis energi global.
TRIBUNKALTIM.CO - Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada beban fiskal negara.
Pemerintah Malaysia mencatat kenaikan signifikan pada subsidi bahan bakar dalam waktu yang sangat singkat.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan, tagihan subsidi BBM melonjak lebih dari empat kali lipat hanya dalam kurun kurang dari sepekan.
Kenaikan ini dipicu gangguan distribusi minyak global yang mempersempit pasokan energi.
"Lonjakan beban subsidi BBM tersebut dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak dunia karena gangguan di jalur pelayaran Timur Tengah," kata Perdana Menteri Malaysia Datuk Anwar Ibrahim di akun resmi Facebook-nya, Minggu 22 Maret 2026.
Baca juga: Donald Trump Diduga Minta Bayaran Triliunan Dolar dari Negara Teluk, Perang Iran Lanjut atau Stop
Anwar mengatakan, subsidi BBM RON95 dan diesel bulanan nasional telah melonjak dari 700 juta ringgit menjadi 3,2 miliar ringgit dalam periode tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan pada 20 persen pasokan minyak dunia dan mencekik pasokan minyak ke pasar global.
"Dalam waktu kurang dari seminggu, harga minyak global melonjak dari sekitar 70 dolar menjadi hampir 120 dolar AS per barel,” kata Anwar Ibrahim.
Meskipun merupakan negara penghasil minyak, Malaysia tetap bergantung pada impor, dengan hampir setengah dari pasokannya berasal melalui jalur yang terdampak.
Dalam unggahan tersebut, Bapak Anwar mengatakan Malaysia mengekspor minyak mentah senilai sekitar US$5,5 miliar pada tahun 2025 tetapi mengimpor hampir US$12,6 miliar, yang mengakibatkan defisit melebihi US$7 miliar.
“Malaysia memang memproduksi minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak minyak daripada mengekspor,” sebut Anwar Ibrahim.
Baca juga: Donald Trump dan Garda Revolusi Iran Berbalas Ancaman soal Selat Hormuz, Nasib Harga Minyak Dunia
Ia mengatakan minyak mentah impor harus dimurnikan, diangkut, dan diasuransikan sebelum sampai ke konsumen, dengan semua biaya meningkat selama konflik.
Kenaikan ini memiliki efek domino, katanya, yang berdampak pada biaya transportasi, harga pangan, dan pengeluaran rumah tangga di seluruh negeri.
Untuk melindungi konsumen, pemerintah telah meningkatkan subsidi agar rakyat Malaysia tidak menanggung beban penuh kenaikan harga global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260320_harga-BBM-Pertamina-Pertalite-hingga-Pertamax_H-1-Lebaran-Idul-Fitri-1447-H.jpg)