Minggu, 19 April 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp 17.105 per Dollar AS, Tekanan Diprediksi Berlanjut

Rupiah tembus rekor terlemah Rp 17.105 per Dollar AS. Tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut.

Editor: Amalia Husnul A
Tribunnews.com/Jeprima
REKOR RUPIAH TERLEMAH - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Rupiah tembus rekor terlemah Rp 17.105 per Dollar AS. Tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut. (Tribunnews.com/Jeprima) 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah tembus rekor terlemah yakni Rp 17.105 per dollar AS
  • Pelemahan rupiah terjadi akibat ketegangan geopolitik global
  • Tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut

 

TRIBUNKALTIM.CO - Selasa 97/4/2026) nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.105 per dolar AS, melemah 0,42 persen dibandingkan posisi Senin (6/4) di Rp 17.035 per dolar AS.

Hal yang sama juga terjadi di Jakarta Interbank Spot Dollar Index (Jisdor) di mana rupiah berada pada level Rp 17.092 per dolar AS atau melemah 0,32 persen dari posisi kemarin Rp 17.037.

Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi global.

Baca juga: Rupiah Sentuh Rp 17.003 per Dollar AS Pagi Ini, Ahli Singgung Tekanan Ekonomi Domestik

Pelaku pasar juga mencermati tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur jika tidak dipenuhi.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,05 persen ke level 100,03, mendekati puncak pekan lalu di 100,64 yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025.

Presiden Spectra Markets Brent Donnelly menilai, pasar saat ini cenderung mengambil posisi menguat pada dolar AS sebagai antisipasi eskalasi lebih lanjut.

“Pasar cenderung overweight dolar AS jika konflik meningkat. Namun, pergerakan saham, emas, dan yuan offshore masih cukup kuat sehingga menahan kenaikan dolar lebih lanjut,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketidakpastian masih sangat tinggi sehingga sulit membuat proyeksi yang akurat dalam jangka pendek.

Di pasar global, yen Jepang melemah ke level 159,80 per dolar AS, mendekati titik terendah dalam beberapa dekade yang sebelumnya memicu intervensi pada 2024.

Sementara itu, won Korea Selatan bertahan di atas level 1.500 per dolar AS—level yang sebelumnya hanya terjadi saat krisis 1998 dan 2009.

Kepala riset valas dan komoditas Commerzbank, Thu Lan Nguyen, menilai Iran kini menunjukkan kendali penuh atas Selat Hormuz dan berpotensi memanfaatkannya untuk kepentingan jangka panjang.

“Semakin jelas bahwa Iran berniat menggunakan kendali atas Selat Hormuz untuk kepentingan strategisnya,” ujarnya.

Sementara itu, konflik masih terus berlanjut. Iran dan Israel saling melancarkan serangan pada Selasa, dengan Israel mengklaim telah menyasar infrastruktur pemerintah Iran.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved