Jumat, 24 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Perketat Kendali Selat Hormuz, Hanya 12 Kapal yang Boleh Melintas

Pemerintah Iran mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan dan pengendalian lalu lintas kapal di Selat Hormuz

Google Maps
SELAT HORMUZ - Gampar merupakan tangkap layar dari Google Maps, Minggu (15/6/2025), menunjukkan lokasi Selat Hormuz. Pemerintah Iran mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan dan pengendalian lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat. (Google Maps) 

TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Iran mengambil langkah tegas dengan memperketat pengawasan dan pengendalian lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat.

Dalam kebijakan terbaru, Iran hanya mengizinkan sekitar 12 kapal melintas setiap harinya, jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik.

Pembatasan ini menandai perubahan drastis dalam aktivitas pelayaran global.

Baca juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Imbas Israel Serang Lebanon, Gencatan Senjata Terancam Gagal

Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, jumlah kapal yang diizinkan melintas bahkan sempat hanya empat unit dalam sehari pada Rabu (8/4/2026).

Angka tersebut kontras tajam dibandingkan lebih dari 100 kapal per hari yang biasanya melintasi jalur vital tersebut sebelum pecahnya konflik di kawasan.

Tak hanya membatasi jumlah kapal, Iran juga menerapkan aturan ketat bagi setiap kapal yang ingin melintas.

Seluruh kapal diwajibkan untuk terlebih dahulu berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran.

Baca juga: 10 Syarat Iran dalam Gencatan Senjata dengan AS, Klaim Kemenangan Kedua Pihak

Tanpa izin resmi dari otoritas militer tersebut, kapal berisiko menghadapi tindakan keras, termasuk ancaman penghancuran sebagaimana disiarkan melalui radio maritim VHF kepada kapal-kapal di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.

Selain aspek keamanan, Iran juga memperkenalkan skema tarif baru bagi kapal yang melintas.

Setiap operator diwajibkan menyepakati biaya terlebih dahulu sebelum memasuki selat, kemudian melakukan pembayaran menggunakan mata uang kripto atau yuan China.

Besaran biaya bervariasi tergantung ukuran kapal, dengan kapal tanker super dilaporkan bisa dikenai tarif hingga 2 juta dolar AS.

Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran di Ujung Tanduk, Libanon Membara dan Ancaman Meluas hingga ke Selat Hormuz

Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada aspek pelayaran, tetapi juga memicu kekhawatiran luas di sektor energi global.

Negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor energi mereka.

Di sisi lain, negara-negara konsumen di Eropa dan Asia juga terancam menghadapi gangguan pasokan akibat pembatasan ini.

Langkah Iran dinilai sebagai strategi geopolitik untuk memperkuat posisi tawar di tengah konflik.

Baca juga: AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata 2 Minggu, Peran Kunci Mojtaba Khamenei Terungkap

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved