Jumat, 8 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Kini Rp 17.147 per Dollar AS, Apakah bisa Menguat?

Pelemahan rupiah masih terus berlanjut, kini Rp 17.147 per dollar AS, Apakah rupiah bisa menguat?

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
Tribunnews.com/Jeprima
TREN PELEMAHAN RUPIAH - Pegawai menunjukan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di gerai penukaran uang Ayu Masagung di Jalan Kramat Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2020). Pelemahan rupiah masih terus berlanjut, kini Rp 17.147 per dollar AS, apakah rupiah bisa menguat? (Tribunnews.com/Jeprima) 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah kian melemah, tembus Rp 17.147 per dolar AS pada Rabu (15/4/2026).
  • Pelemahan dipicu inflasi domestik yang lebih tinggi dan menurunnya surplus neraca perdagangan.
  • Lonjakan harga minyak juga memukul rupiah lantaran Indonesia merupakan pengimpor minyak.
  • Ketidakpastian geopolitik membuat investor memilih dolar AS sebagai tempat berlindung yang aman.
  • Rupiah bisa menguat jika kondisi global pulih dan produktivitas dalam negeri meningkat.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Mata uang Indonesia, Rupiah masih terus melemah.

Tren pelemahan rupiah masih berlanjut, nilai tukar kini Rp 17.147 per dolar AS berdasarkan data Google Finance, Rabu (15/4/2026) pukul 15.27 WIB.

Lantas apakah rupiah bisa menguat?

Menurut Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menyebutkan, pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.000 disebabkan oleh beberapa faktor.

Baca juga: Hari Ini Selasa 14 April 2026, Rupiah Dibuka Melemah Rp 17.127 per Dollar AS, Paling Lemah se-Asia

Pemicu pelemahan rupiah tak terlepas dari kombinasi aspek ekonomi makro dan dinamika global.

Berdasarkan data Google Finance, per hari ini, Rabu (15/4/2026) pukul 15.27 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sendiri menyentuh level Rp 17.147.

Jumlah yang melemah ketimbang harga penutupan terakhir pada hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.135,75 per dolar AS.

Faktor ekonomi makro

Dari faktor ekonomi makro, Eddy menjelaskan pelemahan rupiah menembus Rp 17.000 dapat disebabkan oleh inflasi yang lebih tinggi daripada di AS.

"Secara umum, negara dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi cenderung mengalami depresiasi mata uang," jelas Eddy saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya juga menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah dari sektor ekonomi makro.

"Meskipun neraca perdagangan masih surplus, tapi surplusnya menurun," sebut Eddy. "Artinya, cash inflow dalam bentuk foreign exchanges juga menurun," lanjut Eddy.

Dengan kata lain, uang asing yang masuk ke Indonesia berkurang. Ini terjadi karena surplus neraca perdagangan yang menurun.

Faktor pemicu pelemahan rupiah lainnya menurut Eddy adalah harga minyak yang melonjak tajam.

"Harga minyak yang meningkat pesat membuat Indonesia yang merupakan net oil importer harus merogoh kocek lebih dalam, dan tentunya ini merupakan faktor pendorong depresiasi rupiah," kata Eddy.

Faktor politik dan ekonomi internasional

Depresiasi mata uang Indonesia juga tak lepas dari dinamika politik dan ekonomi internasional.  

Eddy memaparkan, ketidakpastian akibat perang di Eropa dan Timur Tengah menjadi salah satu penyebabnya.

"Kondisi tidak menentu akibat perang di Eropa dan Timur Tengah menyebabkan investor lebih memilih memarkir dana di “safe haven” seperti Amerika Serikat," jelas Eddy.

Belum lagi, lanjut Eddy, Federal Reserve atau bank sentral AS tidak menurunkan policy rate, di mana bunga di AS relatif masih tinggi.

"Sehingga membuat daya tarik cash inflow ke AS lebih tinggi di saat ketidakpastian seperti sekarang," katanya.

Apakah rupiah bisa menguat?

Di tengah kondisi dengan serba ketidakpastian, mata uang rupiah terus menunjukkan fluktuasi.

Menurut Eddy, peluang penguatan nilai tukar rupiah masih terbuka dengan beberapa catatan yang membersamai.

"Rupiah dapat kembali menguat ketika kondisi global mulai normal kembali," katanya.

Selain faktor geopolitik, tekanan pada nilai rupiah berpeluang mereda apabila Indonesia dapat meningkatkan produktivitas barang dan jasa di dalam negeri.

Eddy mengatakan, langkah tersebut penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

"Indonesia dapat meningkatkan produktivitas barang dan jasa di dalam negeri sehingga pertumbuhan ekonomi terjaga," jelas Eddy.

Ia menambahkan, dunia usaha di Indonesia perlu mendapatkan dukungan agar dapat terus berinovasi.  

Dengan begitu, kualitas produk dan jasa meningkat serta lapangan kerja dapat bertambah. "Dunia usaha Indonesia harus didukung untuk berinovasi, produk dan jasa lebih berkualitas, lapangan kerja meningkat, dan lain-lain," pungkasnya.

Baca juga: Terlemah Sepanjang Masa, Rupiah Tembus Rp 17.100 per Dollar AS, Ekonom Singgung Dampak ke Masyarakat

(*)

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram

Artikel ini telah tayang di kompas.com.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved