Berita Ekbis Terkini
Kurs Rupiah Melemah, Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Bisa Sentuh Rp17.550 Pekan Ini
Rupiah terus tertekan hingga tembus Rp17.400 per dolar AS, dipicu konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia.
Ringkasan Berita:
- Rupiah terus tertekan hingga tembus Rp17.400 per dolar AS, dipicu konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia.
- Data PMI Indonesia anjlok ke level 49,1, menandai kontraksi pertama dalam 9 bulan. Aktivitas manufaktur tergerus, jadi sinyal ekonomi domestik ikut tertekan.
- Pengamat memperingatkan rupiah bisa menyentuh Rp17.550, bahkan berpotensi cetak rekor terlemah baru. BI pun turun tangan intervensi pasar demi menjaga stabilitas.
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan kuat di tengah minimnya sentimen positif, baik dari dalam negeri maupun global.
Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menahan penguatan mata uang Garuda.
Pada perdagangan terbaru, rupiah kembali melemah dan menembus level Rp17.400 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah hingga berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz serta memicu ketidakpastian pasar global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan kemarin rupiah ditutup melemah 57 poin sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.394 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.353.
"Hari ini mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.390- Rp17.440," papar Ibrahim, dikutip Selasa (5/52026).
Baca juga: Rupiah yang Terparah di Asia, Perbandingan Pergerakan Mata Uang di Asia dengan Dollar AS
Ia menjelaskan, tekanan eksternal terhadap rupiah masih dari ketegangan kawasan Timur Tengah, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz.
Selain itu, Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk.
Imbas adanya perang, Ibrahim menyebut aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus hingga mengalami kontraksi.
Data Purchasing Managers Index (PMI) yang dirilis S&P Global, menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026.
"Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi," paparnya.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, kondisi rupiah saat ini masih rapuh meskipun terdapat peluang penguatan terbatas apabila tekanan global mereda.
"Arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun," kata Josua dikutip dari Kontan.
Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas, sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.500, BI Terapkan 3 Pilar Utama Fundamental Ekonomi Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260503_nilai-tukar-rupiah_dollar-AS_IHSG.jpg)