Senin, 20 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Tutup Akses Selat Hormuz, Kapal Dagang Ditembak dan Dipaksa Putar Balik

Iran ancam perketat akses Selat Hormuz, kapal asing disebut mustahil melintas selama blokade AS masih berlaku.

Editor: Heriani AM
Google Maps
SELAT HORMUZ - Ilustrasi lokasi Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menegaskan komitmennya membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.  

Ringkasan Berita:
  • Iran ancam perketat akses Selat Hormuz, kapal asing disebut mustahil melintas selama blokade AS masih berlaku
  • Situasi memanas, dua kapal dagang ditembak dan dipaksa balik, jalur vital minyak dunia kembali lumpuh dan picu kekhawatiran krisis energi
  • Di tengah gencatan senjata rapuh, ketegangan Amerika Serikat vs Iran berpotensi meledak lagi, mediator masih cari jalan damai

 

TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menegaskan komitmennya membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz

Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang hingga kini masih diberlakukan.

Pernyataan keras disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menilai tidak adil jika negara lain bebas melintas sementara Iran dibatasi.

Di tengah situasi tersebut, upaya mediasi internasional untuk memperpanjang gencatan senjata pun menghadapi tantangan besar.

Baca juga: Ketegangan di Selat Hormuz Setelah Ditutup Kembali, Iran dan AS Sama-sama Ngotot

Sementara itu, para mediator berupaya memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026).

Blokade yang saling berlawan telah mempersulit upaya mediasi yang dipimpin Pakistan dan menimbulkan pertanyaan tentang apakah gencatan senjata selama dua minggu dapat diperpanjang.

“Mustahil bagi negara lain untuk melewati Selat Hormuz sementara kita tidak bisa,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam sebuah wawancara yang disiarkan di televisi pemerintah pada Sabtu (18/4/2026) malam.

Ghalibaf, yang merupakan kepala negosiator Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, mengecam blokade AS sebagai "keputusan naif yang dibuat karena ketidaktahuan."

Dia mengatakan Iran masih berupaya mencapai perdamaian meskipun ada ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Amerika Serikat.

“Kesenjangan masih lebar dan beberapa masalah mendasar masih belum terselesaikan,” katanya.

Dilansir AP News, Iran telah mengumumkan pembukaan kembali selat tersebut setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon berlaku pada Jumat (17/4/2026).

Baca juga: 4 Pernyataan Terbaru Mojtaba Khamenei, Sebut Kunci Kekuatan Iran Hadapi AS dan Israel

Namun, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade AS terhadap pelabuhan Iran "akan tetap berlaku sepenuhnya" sampai Teheran mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, Iran mengatakan akan terus memberlakukan pembatasan di selat tersebut.

Setelah peningkatan singkat dalam upaya transit pada hari Sabtu, kapal-kapal di Teluk Persia mempertahankan posisi mereka, waspada setelah dua kapal berbendera India ditembak di tengah perjalanan dan dipaksa untuk berbalik.

Mundurnya mereka mengembalikan selat tersebut, yang biasanya dilalui oleh sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, ke status quo sebelum gencatan senjata, mengancam akan memperdalam krisis energi global dan mendorong pihak-pihak terkait menuju konflik baru saat perang memasuki minggu kedelapan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved