Iran Vs Amerika Memanas
Sinyal Negosiasi Kedua AS–Iran Segera Digelar, Trump: Itu Mungkin
Pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlangsung dalam rentang waktu “36 hingga 72 jam” ke depan
TRIBUNKALTIM.CO - Perkembangan terbaru hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul sinyal kuat bahwa perundingan lanjutan antara kedua negara berpotensi digelar dalam waktu dekat.
Informasi ini mencuat usai sebelumnya rencana pertemuan di Pakistan batal terlaksana, di tengah konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Sejumlah sumber di Pakistan menyebutkan bahwa pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlangsung dalam rentang waktu “36 hingga 72 jam” ke depan.
Pernyataan tersebut memperkuat harapan akan dibukanya kembali jalur diplomasi setelah situasi sempat mengalami kebuntuan.
Baca juga: Utusan Presiden AS Donald Trump Minta FIFA Ganti Iran dengan Timnas Italia di Piala Dunia 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun memberikan tanggapan singkat terkait kemungkinan tersebut.
Dalam pesan teks kepada media, ia menyatakan, “Itu mungkin.”
Pernyataan ini menjadi indikasi bahwa peluang dialog tetap terbuka, meskipun kondisi di lapangan masih dipenuhi ketegangan.
Gencatan Senjata Diperpanjang Tanpa Batas Waktu
Langkah penting lainnya dalam dinamika konflik ini adalah keputusan Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa menetapkan batas waktu tertentu.
Gencatan senjata sendiri merupakan kesepakatan penghentian sementara aksi militer antara pihak yang berkonflik, yang biasanya bertujuan membuka ruang negosiasi.
Trump menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memberikan kesempatan kepada Iran menyusun proposal damai yang dapat dibahas dalam perundingan selanjutnya.
“Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala hal, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” kata Trump dalam unggahan di media sosial pada Selasa (21/4/2026) malam waktu setempat.
Keputusan ini disebut juga merupakan respons atas permintaan mediator dari Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
Pakistan berperan sebagai pihak penengah yang berupaya mendorong terciptanya dialog damai antara Washington dan Teheran.
Sharif sendiri menyampaikan harapannya agar momentum ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh kedua negara.
“Saya dengan tulus berharap kedua pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan dapat menyelesaikan ‘Kesepakatan Damai’ komprehensif dalam putaran kedua perundingan di Islamabad,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260422_Donald-Trump.jpg)