Berita Internasional Terkini
PBB Peringatkan soal Krisis Pangan Global yang Dipicu Panas Ekstrem
Laporan terbaru PBB memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem semakin mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.
Ringkasan Berita:
- Gelombang panas ekstrem mengancam sistem pangan global, menurunkan produktivitas pertanian, perikanan, dan kehutanan.
- Dampak nyata sudah terlihat di berbagai negara, dari penurunan hasil panen hingga kerugian ekonomi besar.
- PBB mendesak langkah adaptasi segera, termasuk teknologi pertanian tahan panas, sistem peringatan dini, dan dukungan finansial bagi petani.
TRIBUNKALTIM.CO - Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem semakin mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.
Gelombang panas adalah kondisi suhu tinggi yang berlangsung lama, baik siang maupun malam, yang berdampak langsung pada hasil panen, ternak, perikanan, dan hutan, serta membahayakan kesehatan pekerja sektor pertanian.
Menurut laporan bersama Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya sekitar 500 miliar jam kerja setiap tahun.
Baca juga: Filipina Dilanda Panas Ekstrem, Sekolah Ditutup 2 Hari, Terapkan Kembali Kelas Online
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperburuk kelemahan sistem pertanian.
“Panas ekstrem semakin menentukan bagaimana sistem pangan dan pertanian kita bekerja,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan bahwa panas ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperparah kelemahan yang sudah ada dalam sistem pertanian kita.
Risiko Berlipat Ganda
"Panas ekstrem adalah 'faktor pelipat ganda risiko yang besar'," ujar Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu.
Maksudnya adalah panas bukan hanya satu masalah tunggal melainkan membuat masalah lain seperti ekonomi dan ketersediaan pangan jadi jauh lebih sulit.
Dampak panas ekstrem sudah mulai terlihat jelas di berbagai sistem pertanian.
Untuk banyak tanaman utama, hasil panen mulai menurun saat suhu di atas 30 derajat C.
Suhu panas ini membuat struktur tanaman melemah dan produktivitasnya berkurang.
Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem Terjadi di Balikpapan, Ini 8 Langkah yang Bisa Dilakukan Agar Tetap Sehat
Hewan ternak bahkan mengalami stres, terutama babi dan unggas yang tidak bisa mendinginkan tubuhnya sendiri dengan baik.
Akibatnya, pertumbuhan mereka terhambat, produksi susu menurun, dan dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan gagal organ.
Di laut, kenaikan suhu menurunkan kadar oksigen sehingga ikan-ikan tertekan.
Tercatat 91 persen wilayah lautan global mengalami setidaknya satu kali gelombang panas laut pada tahun 2024.
Hutan juga terdampak karena panas ekstrem mengganggu proses fotosintesis dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Panas ekstrem juga memperparah risiko iklim lainnya.
Suhu yang sangat tinggi dapat memicu kekeringan, memperburuk kelangkaan air, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan mempercepat penyebaran hama serta penyakit. Fakta di lapangan Laporan ini pun menyebutnya sebagai "efek berantai" yang dampaknya menjalar ke seluruh ekosistem.
Sebagai contoh, gelombang panas tahun 2025 di Kirgistan menyebabkan suhu naik sekitar 10 derajat C di atas normal.
Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem di Balikpapan, BMKG Analisis Belum Masuk Musim Kemarau
Hal ini mengakibatkan panen gandum turun hingga 25 persen, sekaligus memicu serangan kawanan belalang dan mengurangi pasokan air untuk irigasi.
Di tempat lain, cuaca panas dan kekeringan yang panjang di Brasil pada tahun 2023 dan 2024 memotong hasil panen kedelai hingga 20 persen.
Sementara itu, gelombang panas besar di Amerika Utara pada tahun 2021 menyebabkan kerugian besar pada tanaman buah-buahan dan lonjakan tajam kebakaran hutan.
Di sebagian wilayah Asia Selatan, Afrika bagian bawah gurun Sahara, dan Amerika Latin, jumlah hari yang terlalu panas untuk bekerja bisa meningkat hingga 250 hari per tahun.
Hal ini membahayakan jutaan pekerja pertanian dan merusak produksi pangan secara keseluruhan.
Baca juga: Hadapi Cuaca Panas Ekstrem, BPBD Kukar Minta Warga tak Bakar Sampah
Untuk mengatasi hal ini, laporan tersebut mendesak adanya langkah-langkah adaptasi segera, termasuk menggunakan tanaman yang tahan panas, menyesuaikan jadwal tanam, dan memperbaiki cara pengelolaan pertanian.
Sistem peringatan dini dan akses ke bantuan keuangan seperti asuransi dan perlindungan sosial, juga sangat penting untuk membantu petani menghadapi risiko yang semakin meningkat.
"Melindungi masa depan pertanian dan memastikan ketersediaan pangan dunia tidak hanya butuh ketahanan di tingkat lahan, tetapi juga transisi tegas untuk meninggalkan masa depan yang tinggi emisi polusi," simpul laporan PBB tersebut. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
| 4 Negara Muslim Bahas Aliansi Pertahanan Regional, Bersiap Hadapi Ambisi Ekspansi Israel |
|
|---|
| Tak Hanya di AS, Gelombang Kematian Ilmuwan Juga Terjadi di China, Picu Spekulasi 'Senyap' |
|
|---|
| Serangkaian Ilmuwan AS Hilang dan Tewas, Muncul Dugaan Operasi Asing hingga Bantahan Konspirasi |
|
|---|
| Malaysia dan Singapura Kompak Tolak Wacana Menkeu Purbaya Tarik Tarif Kapal di Selat Malaka |
|
|---|
| Singapura Tolak Wacana Pajaki Kapal di Selat Malaka yang Sempat Disampaikan Menkeu Purbaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260408_panas-terik-di-Tanjung-Selor.jpg)