Jumat, 8 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Luruskan soal Istilah Survival Mode, Menkeu Purbaya: Segala Kemewahan Harus Ditinggalkan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan soal istilah “survival mode” yang kini menjadi perhatian publik, Jumat (24/4/2026).

Tayang:
Kompas.com/DEBRINATA RIZKY
SURVIVAL MODE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan soal istilah “survival mode” yang kini menjadi perhatian publik. Ia menegaskan istilah “survival mode” yang digunakannya untuk menggambarkan arah kebijakan ekonomi bukan berarti Indonesia sedang menghadapi krisis.  (KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY) 

Ringkasan Berita:
  • Istilah “survival mode” digunakan pemerintah untuk menekankan disiplin fiskal, bukan tanda krisis.
  • APBN dinyatakan masih kuat dengan total Saldo Anggaran Lebih Rp420 triliun.
  • Pendekatan ini mendapat respons positif dari investor global, memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia.

TRIBUNKALTIM.CO - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan soal istilah “survival mode” yang kini menjadi perhatian publik.

Ia menegaskan istilah “survival mode” yang digunakannya untuk menggambarkan arah kebijakan ekonomi bukan berarti Indonesia sedang menghadapi krisis. 

Purbaya menjelaskan, istilah tersebut menggambarkan pola kerja disiplin dan efisiensi yang diterapkan pemerintah dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca juga: Klarifikasi Purbaya soal Ide Tarif Kapal di Selat Malaka yang Ditolak Malaysia dan Singapura

APBN adalah rencana keuangan tahunan negara yang memuat pendapatan dan belanja pemerintah.

“Artinya kita nggak boleh main-main lagi. Kalau kita enggak ada ruang untuk bermain-main, segala kemewahan harus ditinggalkan. Kita harus fokus pada peluang yang ada,” ujar Purbaya dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).

Ia menekankan, persaingan global yang semakin ketat menuntut pemerintah menutup celah inefisiensi, menekan kebocoran penerimaan, serta memastikan program berjalan efektif.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing ekonomi nasional. 

“Kalau pajaknya main-main, hancur kita. Kalau programnya main-main, kita akan digiling bangsa lain. Jadi kita survival mode,” katanya.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Pendekatan tersebut juga diikuti dengan penguatan pengawasan.

Pemerintah memperketat belanja negara, perpajakan, dan bea cukai. Presiden Prabowo Subianto juga membentuk satuan tugas percepatan pembangunan untuk mengawal pelaksanaan program.

Purbaya mengakui reformasi di sektor pajak dan bea cukai sudah berjalan.

Namun, ia melihat masih ada ruang kebocoran yang perlu ditutup.

“Walaupun sudah maju ya, bea cukai dan pajak. Tapi kita masih ada lihat kebocoran, bahkan kebocoran ruang sana sini yang masih bisa ditutup. Jadi itu yang disebut survival mode,” kata dia. 

Ia juga menepis anggapan kondisi fiskal sedang tertekan. Menurut dia, APBN masih berada dalam kondisi kuat.

Pernyataan itu sekaligus menjawab isu yang menyebut kas negara tinggal Rp120 triliun.

Baca juga: Copot 2 Dirjen Kementerian Keuangan, Purbaya Ungkap Alasannya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved