Senin, 4 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Donald Trump Hadapi Kondisi Pahit Imbas Perang dengan Iran

Lebih dari dua bulan setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden Donald Trump kini menghadapi kenyataan pahit.  

Tayang:
HO//WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE
POSISI DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). Lebih dari dua bulan setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden Donald Trump kini menghadapi kenyataan pahit.  (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) 
Ringkasan Berita:
  • Konflik AS-Israel dengan Iran masih buntu, meski serangan militer telah melemahkan infrastruktur Iran.
  • Penolakan Trump terhadap proposal Iran memperburuk diplomasi dan menurunkan popularitasnya di dalam negeri.
  • Perbedaan prioritas isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz menjadi titik utama kebuntuan negosiasi.

TRIBUNKALTIM.CO - Lebih dari dua bulan sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, konflik masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Presiden AS Donald Trump kini menghadapi tekanan besar setelah strategi militer yang diharapkan berujung kemenangan cepat justru berlarut-larut.

Pada Jumat (1/5/2026), Trump menolak proposal baru yang diajukan Iran melalui mediator Pakistan. Penolakan ini semakin memperumit jalan diplomasi dan memperpanjang kebuntuan.

Baca juga: Trump Berkonflik dengan Kanselir Jerman, AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin

Dampak politik langsung terasa di Washington. Reuters melaporkan, Sabtu (2/5/2026), popularitas Trump anjlok hingga 34 persen, level terendah sepanjang masa jabatannya.

Penurunan ini dipicu lonjakan harga bensin, yang menjadi isu sensitif menjelang pemilihan kongres paruh waktu November mendatang.

Meski serangan udara AS dan Israel berhasil melemahkan infrastruktur militer Iran, sejumlah tujuan strategis Trump belum tercapai.

Ambisi perubahan rezim dan penghentian total program nuklir Iran masih jauh dari harapan.

Stok uranium yang sangat diperkaya disebut tetap aman di fasilitas bawah tanah.

Baca juga: Trump Sebut AS Seperti Bajak Laut di Tengah Memanasnya Konflik Iran di Selat Hormuz

Masalah utama dalam kebuntuan negosiasi ini adalah perbedaan prioritas.

Teheran mengusulkan penundaan pembahasan nuklir hingga konflik berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali. 

Namun, Trump bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi poin pertama dalam setiap kesepakatan.

Kegagalan merebut jalur perairan vital untuk pengiriman minyak dari kendali Iran pada akhir konflik akan menjadi pukulan besar bagi warisan Trump.

"Trump akan dikenang sebagai presiden AS yang membuat dunia kurang aman,” kata analis Timur Tengah dari Universitas Johns Hopkins, Laura Blumenfeld. 

Di sisi lain, Gedung Putih tetap menunjukkan sikap percaya diri yang kontras dengan penilaian para ahli.  

Baca juga: Trump Tolak Tawaran Damai Iran, Negosiasi Buntu dan Konflik Terancam Memanas

Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales menyebutkan, tekanan militer justru membuat Teheran putus asa.  

"Trump memegang semua kendali dan memiliki semua waktu yang dibutuhkan untuk membuat kesepakatan terbaik,” tegasnya. 

Iran yang Semakin Berani 

Kekalahan terbesar dalam perang ini mungkin bukan terjadi di medan tempur, melainkan pada hilangnya kendali atas jalur pelayaran vital.  

Sebelum perang, Selat Hormuz adalah jalur bebas bagi seperlima minyak dunia.  

Kini, dengan kemampuan Iran untuk mencekik pengiriman di Selat Hormuz meski dalam keadaan militer yang lemah, posisi tawar Teheran justru dianggap lebih kuat dibandingkan sebelum konflik pecah.

“Iran menyadari, bahkan dalam keadaan lemah, mereka dapat menutup Selat Hormuz sesuka hati,” tutur Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).  

Ketidakpastian ini diperparah dengan munculnya kepemimpinan Iran yang jauh lebih garis keras.  

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini diyakini mendominasi kekuasaan setelah terbunuhnya beberapa tokoh kunci, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.  

Seruan Trump agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka pun sejauh ini tampak tidak membuahkan hasil.

Risiko "Konflik Beku" 

Di dalam internal pemerintahan AS, muncul opsi-opsi darurat jika kebuntuan ini terus berlanjut.  

Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan blokade angkatan laut yang berkepanjangan selama berbulan-bulan untuk memaksa denuklirisasi.  

Di saat yang sama, Komando Pusat AS (Centcom) juga disebut menyiapkan rencana serangan singkat dan dahsyat untuk merebut kembali sebagian Selat Hormuz.

Namun, para diplomat Eropa skeptis bahwa langkah ini akan segera mengakhiri ketegangan.

Ada kekhawatiran bahwa perang ini akan berubah menjadi "perang dingin", sebuah situasi di mana tidak ada perdamaian namun pertempuran skala besar juga berhenti.  

Hal ini akan memaksa AS untuk tetap menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Timur Tengah, sebuah langkah yang bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menghindari intervensi asing.

“Iran tidak terpecah belah atau menyerah, mereka sedang mengulur waktu,” kata peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi.

Strategi menunggu ini tampaknya sengaja dilakukan Teheran untuk melihat seberapa kuat ekonomi AS menahan beban harga energi sebelum akhirnya Trump dipaksa menyerah oleh tekanan domestiknya sendiri. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved