Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Tembus Rp17.512 per Dolar AS, Gubernur BI Temui Prabowo Bawa 7 Jurus Penguatan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan dan kini menembus level Rp17.512 per dolar AS. 

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
KURS RUPIAH MELEMAH - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (24/1/2024). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan dan kini menembus level Rp17.512 per dolar AS.  
Ringkasan Berita:
  • Rupiah makin tertekan hingga menyentuh Rp17.512 per dolar AS. 
  • Situasi ini membuat Gubernur BI, Perry Warjiyo, langsung menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana.
  • Bank Indonesia menyiapkan 7 jurus untuk menahan pelemahan rupiah. Mulai dari intervensi pasar, pembelian SBN ratusan triliun, hingga pembatasan pembelian dolar AS di dalam negeri.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan dan kini menembus level Rp17.512 per dolar AS. 

Kondisi tersebut mendorong Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah strategis guna menjaga stabilitas mata uang nasional di tengah gejolak pasar keuangan global.

Padahal pada Selasa lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah menembus level Rp 17.425 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan pihaknya telah melaporkan langsung kondisi terkini rupiah kepada Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).

Baca juga: Skenario Terburuk Jika Kurs Rupiah Rp18.300, Ekonom Ungkap Dampak ke Ekonomi Domestik

Dalam kesempatan itu, BI memaparkan tujuh kebijakan utama yang akan ditempuh untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Kami melaporkan kepada Pak Presiden, dan Pak Presiden merestui, dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah stabil ke depan," ujar Perry dalam keterangannya usai bertemu Presiden di Istana, dikutip Rabu (6/5/2026).

Langkah pertama, BI akan terus melakukan intervensi melalui pasar spot dan transaksi derivatif valuta asing (Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF) di dalam maupun luar negeri. 

Menurutnya, cadangan devisa Indonesia, yang pada akhir Maret tercatat sebesar USD 148,2 miliar, masih sangat memadai sebagai amunisi untuk melaksanakan intervensi tersebut.

Kedua, kata Perry, BI dan pemerintah akan mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali arus modal asing. 

"Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap rupiah dan pada akhirnya memperkuat nilai tukarnya terhadap dolar AS," kata dia.

Baca juga: Kurs Rupiah Melemah, Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Bisa Sentuh Rp17.550 Pekan Ini

Ketiga, BI kata dia, tengah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai Rp123,1 Triliun.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date sebesar Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi. Koordinasi antara fiskal dan moneter sangat erat," ucap dia.

Keempat, untuk menjaga fondasi kekuatan rupiah, BI dan Kementerian Keuangan akan memastikan likuiditas perbankan tetap lebih dari cukup serta menjaga pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi. 

Menurutnya, pertumbuhan uang primer terakhir mencapai 14,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kelima, Perry menyebut kalau BI akan melanjutkan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tunai di pasar domestik dari sebelumnya USD 100 ribu per orang per bulan menjadi USD 50 ribu per orang per bulan. 

"Bahkan, BI juga akan mempersiapkan kebijakan di mana pembelian Dolar AS di atas USD 25 ribu harus memakai underlying," tegas Perry.

Keenam, BI akan memperkuat pasar intervensi offshore non-deliverable forward (NDF) untuk mengendalikan nilai tukar di luar negeri serta memperbolehkan bank domestik untuk menjual NDF offshore di luar negeri.

"Sehingga nanti pasokan (valuta asing) lebih banyak dan itu akan memperkuat stabilisasi dan nilai tukar Rupiah," jelasnya.

Baca juga: Rupiah yang Terparah di Asia, Perbandingan Pergerakan Mata Uang di Asia dengan Dollar AS

Terakhir, BI akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.

"Kami akan berkoordinasi dengan Bu Friderica Widyasari, Ketua OJK, untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga," tutup dia. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Tambah Loyo, Gubernur BI Temui Prabowo, Beber 7 Jurus Penguatan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved