Breaking News
Senin, 11 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Diprediksi Melemah Pekan Ini, Berpotensi Sentuh Rp17.430 per Dolar AS

Rupiah diprediksi masih bergerak melemah pada pekan depan dan berpotensi menyentuh Rp17.430 per dolar AS di tengah minimnya sentimen positif pasar.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DollarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026) lalu. Rupiah diprediksi masih bergerak melemah pada pekan depan dan berpotensi menyentuh Rp17.430 per dolar AS di tengah minimnya sentimen positif pasar. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah diprediksi masih bergerak melemah pada pekan depan dan berpotensi menyentuh Rp17.430 per dolar AS di tengah minimnya sentimen positif pasar.
  • Ketegangan geopolitik antara AS-Iran serta Rusia-Ukraina disebut menjadi faktor utama yang menekan rupiah karena memicu lonjakan biaya energi dan inflasi global.
  • Investor juga menyoroti lonjakan utang pemerintah yang hampir menembus Rp10.000 triliun serta defisit APBN kuartal I 2026 yang sudah mencapai Rp240,1 triliun.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan depan di tengah minimnya sentimen positif dari pasar global maupun domestik.

Kondisi geopolitik internasional yang kembali memanas dinilai menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), rupiah tercatat melemah 49 poin ke posisi Rp17.382 per dolar AS dibandingkan sehari sebelumnya di level Rp17.359 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada awal pekan dengan rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.

"Perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.380- Rp17.430," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dikutip Minggu (10/5/2026).

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah Rp 17.346 per Dollar AS, Ekonom Singgung Moratorium Sejumlah Program

Ibrahim menjelaskan, ketegangan di Timur Tengah antara Amerika-Iran, serta Eropa Timur yakni Rusia-Uraina, masih menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

"Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan untuk kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur transit minyak dan gas utama," paparnya.

Kondisi tersebut membuat biaya pengiriman komoditas menjadi melonjak hingga akhirnya mendongkrak inflasi, dan The Fed atau Bank Sentral Amerika berpotensi menahan suku bunga acuannya.

Sedangkan di dalam negeri, investor mencermati utang pemerintah sampai dengan 31 Maret 2026 tembus Rp9.920,42 triliun. 

Posisi ini naik hampir 3 persen dari level periode sampai Desember 2025 yaitu Rp9.637,9 triliun. Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I/2026 itu setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).  

Ia menyebut, perhitungan rasio utang terhadap PDB ini didapatkan dari membagi outstanding utang terbaru yakni Rp9.637,9 triliun, serta akumulasi PDB harga berlaku terbaru yaitu kuartal I/2026 (Rp6.187,2 triliun) dan tiga kuartal sebelumnya yang keseluruhan mencapai Rp24.341,4 triliun. 

Baca juga: Cek Nilai Tukar Rupiah di 6 Bank Besar Indonesia Hari Ini 21 April 2025, 1 Dolar Berapa Rupiah?

Kemuudian, sampai dengan kuartal I/2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 % terhadap PDB. 

"Pembiayaan utang pun sudah terealisasi Rp258,7 triliun atau 31,1 % terhadap PDB," paparnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan, Berpotensi Sentuh Rp17.430 per Dolar AS

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved