Iran Vs Amerika Memanas
Benjamin Netanyahu Sebut Mojtaba Khamenei Masih Hidup dan Bersembunyi di Bunker
Netanyahu yakin Mojtaba Khamenei masih hidup dan kini disebut bersembunyi di bunker rahasia usai perang Iran-Israel memanas.
Ringkasan Berita:
- Netanyahu yakin Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup dan kini disebut bersembunyi di bunker rahasia usai perang Iran-Israel memanas.
- PM Israel juga mengaku AS dan Israel salah memperkirakan dampak besar Selat Hormuz yang kini jadi titik paling panas konflik dunia.
- Di tengah ancaman perang lanjutan, negosiasi damai Iran-AS kembali buntu usai Donald Trump menolak proposal terbaru dari Teheran.
TRIBUNKALTIM.CO - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih hidup dan diduga bersembunyi di lokasi rahasia di tengah memanasnya konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS News, Senin (11/5/2026).
Menurut Netanyahu, Mojtaba Khamenei kini diyakini berada di bunker atau tempat perlindungan tersembunyi setelah sebelumnya jarang muncul di publik.
Ia juga menilai pemimpin baru Iran itu tengah berupaya memperkuat pengaruh politiknya usai menggantikan Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel.
Baca juga: Iran-AS Masih Jauh dari Kata Damai, Teheran Pastikan Tidak akan Tunduk dengan Donald Trump
Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS News, Netanyahu mengatakan Mojtaba Khamenei kemungkinan berada di bunker atau tempat perlindungan rahasia setelah sebelumnya jarang terlihat di publik sejak menggantikan Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel.
“Saya pikir dia masih hidup. Tetapi bagaimana kondisinya, sulit dikatakan. Dia bersembunyi di bunker atau tempat rahasia,” ujar Netanyahu, Senin (11/5/2026).
Menurut Netanyahu, Mojtaba saat ini tengah berupaya memperkuat otoritasnya sebagai pemimpin baru Iran, meski pengaruhnya dinilai belum sekuat pendahulunya.
Akui AS-Israel Salah Perkiraan Soal Selat Hormuz
Dalam wawancara yang sama, Netanyahu juga mengakui Israel dan Amerika Serikat tidak sepenuhnya memperkirakan dampak strategis yang dapat ditimbulkan Iran melalui kendalinya atas Selat Hormuz sebelum perang pecah.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Sekitar seperlima distribusi minyak global melewati jalur sempit tersebut.
Ancaman gangguan pelayaran atau blokade di Hormuz membuat kawasan itu menjadi titik paling sensitif dalam konflik Iran dengan Barat.
Baca juga: Israel Tolak AS dan Iran Berdamai, Benjamin Netanyahu Tegaskan Ada Urusan yang Belum Selesai
Pernyataan Netanyahu muncul ketika ketegangan di Hormuz kembali meningkat menyusul ancaman Iran terhadap kehadiran kapal perang asing dan blokade maritim yang dilakukan Amerika Serikat.
Netanyahu juga menegaskan bahwa perang terhadap Iran “belum berakhir” selama program nuklir Teheran masih berjalan.
“Perang belum selesai karena masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dipindahkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu.
Ia menyebut kemampuan nuklir Iran memang telah dilemahkan, termasuk jaringan proksi dan kapasitas produksi rudalnya. Namun menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ketika ditanya apakah rezim Iran dapat dijatuhkan, Netanyahu mengatakan hal tersebut mungkin terjadi tetapi tidak dapat dipastikan.
“Apakah itu mungkin? Ya. Apakah itu dijamin? Tidak,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran juga masih menemui jalan buntu.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Masih Belum Muncul saat Negosiasi Damai Iran-AS, Faksi Garis Keras Mulai Gelisah
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal perdamaian terbaru Iran dan menyebutnya “totally unacceptable”.
Proposal AS sendiri meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama sedikitnya 12 tahun serta menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.
Sebagai imbalan, Washington menawarkan pelonggaran sanksi dan penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Sementara itu, Iran mengajukan proposal tiga tahap yang mencakup penghentian perang, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta penundaan negosiasi nuklir hingga gencatan senjata tercapai. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Akui AS-Israel Tak Prediksi Dampak Selat Hormuz, Netanyahu: Mojtaba Masih Hidup dan Sembunyi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260315_Benjamin-Netanyahu_PM-Israel_rumor-kematian_video-diduga-AI.jpg)