Selasa, 19 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Anjlok ke Rp 17.727 per Dolar AS, DPR Cecar BI: Sampai Muncul Ejekan 17-8-45

DPR menyoroti rupiah yang terus melemah hingga muncul sindiran kurs Rp17.845 dikaitkan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
RUPIAH ANJLOK - Ilustrasi pegawai bank menunjukkan uang dollar Amerika Serikat (AS) di kantor cabang Bank Muamalat Melawai, Jakarta Selatan, Kamis (27/7/2023) lalu. DPR menyoroti rupiah yang terus melemah hingga muncul sindiran kurs Rp17.845 dikaitkan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • DPR menyoroti rupiah yang terus melemah hingga muncul sindiran kurs Rp17.845 dikaitkan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia.
  • Anggota Komisi XI DPR mempertanyakan klaim BI soal rupiah stabil, sementara masyarakat merasakan tekanan ekonomi makin berat.
  • Analis menilai pelemahan rupiah dipicu sentimen global hingga faktor domestik, bahkan ada prediksi dolar AS bisa tembus Rp18.000.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan publik setelah kurs mata uang Garuda terus mengalami pelemahan hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. 

Kondisi rupiah yang anjlok ini bahkan memicu berbagai reaksi di masyarakat, termasuk munculnya sindiran yang mengaitkan angka Rp 17.845 dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Isu pelemahan rupiah tersebut turut dibahas dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Senin (19/5/2026).

Baca juga: Respons Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS, Menkeu Purbaya Hitung Skenario Terburuk APBN

Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mempertanyakan efektivitas berbagai kebijakan Bank Indonesia di tengah depresiasi rupiah yang terus berlanjut dan dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.

"Yang kedua tentang kurs, Pak. Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah 17.600. Bahkan muncul ejean kalau Rp 17.845 maka Indonesia merdeka katanya 17 8 45," kata Harris dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia, di Jakarta, Senin (19/5/2026).

Lebih lanjut Harris pun mempertanyakan presentasi Gubernur BI Perry Warjiyo yang justru menyebut bahwa kondisi rupiah kini relatif stabil.

Padahal masyarakat telah merasakan sendiri kondisi melemahnya ekonomi.

"Nah, tetapi di presentasi Bapak, Bapak mengatakan bahwa rupiah stabil, relatif stabil kalau dibandingkan dengan negara yang lain. Nah, persoalan yang dirasakan oleh masyarakat adalah harus juga meningkat dan persepsi ekonomi ini melemah," imbuh Harris.

Harris mengakui BI memang sudah melakukan berbagai langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah ini.

Namun hasilnya rupiah masih terus mengalami depresiasi.

Depresiasi rupiah adalah penurunan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing, seperti dolar AS. 

"Padahal BI sudah banyak sekali melakukan langkah. Salah satunya adalah intervensi besar-besaran sehingga menurunkan cadangan devisa dari 156 menjadi 146 billion dollars. SRBI sudah dikerek menjadi 6,41 persen. SBN BI juga membeli SBN 332 triliun di tahun 2025 dan sekarang tambah 133 triliun lagi."

"BI juga melakukan pengetatan pembelian dolar dari Rp 50.000 ke 25.000. Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan tetapi why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi? ungkap Harris.

Baca juga: Rupiah Anjlok Rp 17.668 per Dollar AS, Kata Kementerian ESDM soal Harga Elpiji 3 Kg dan BBM Subsidi

Harris menyadari kondisi ini memang salah satunya dipengaruhi oleh tekanan global yang sangat besar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved