Rabu, 20 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS Akhir Mei 2026, Bisa Picu PHK

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tekanan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026. 

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan mata uang rupiah dan dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tekanan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026.  

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah ke Rp17.703 per dolar AS dan berpotensi tembus Rp18.000 akhir Mei 2026.
  • Konflik Iran-AS dan naiknya harga minyak dunia membuat investor ramai memburu dolar AS dan emas.
  • Pernyataan Prabowo Subianto soal “orang desa tak pakai dolar” dikritik ekonom karena dinilai berbahaya bagi ekonomi.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tekanan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026. 

Pelemahan kurs dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat pelaku pasar mulai khawatir terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) siang, rupiah tercatat melemah ke posisi Rp17.703 per dolar AS.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat yang turut mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak dunia.

"Dengan kecepatan perlemahan saat ini, mungkin saja (tembus Rp18.000 per dolar AS," kata Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong kepada Tribunnews.com.

Baca juga: Awal Pekan, Rupiah Melemah Tembus Rp 17.661 per Dollar AS, Kebutuhan Impor Indonesia Terdampak

Lukman menjelaskan, rupiah yang kembali melemah akibat sentimen ketidakpastian global, yang membuat investor global mengalihkan dananya ke instrumen lebih stabil dan aman atau safe haven, seperti dolar AS maupun emas.

"Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off (aksi jual) semua asset termasuk obligasi, saham, crypto dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi Jinping dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran," papar Lukman. 

Kondisi global, terutama masih tegangnya konflik Iran-Amerika Serikat terkait Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah dunia kembali naik.

Tercatat, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) berada di 111,24 dolar AS per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI/CLc1) naik ke 107,70 dolar AS per barel.

Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent sudah melesat sekitar 11,2 persen, dari posisi 100,06 dolar AS per barel pada 7 Mei 2026 menjadi di atas 111 dolar AS per barel. 

WTI bahkan naik lebih tajam, dari 94,81 dolar AS menjadi 107,70 dolar AS per barel.

Baca juga: Rupiah Melemah: Dolar tak Ada di Desa

Selain itu, Lukman menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap enteng pelemahan rupiah disambut negatif dari investor.

Prabowo seakan tidak memperdulikan pelemahan rupiah karena orang desa dalam kehidupannya tidak menggunakan dolar AS.

"Pidato Prabowo umumnya juga direspon negatif investor dan tidak mendukung rupiah," ucap Lukman.

Solusi Tahan Pelemahan Rupiah

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved