Jumat, 22 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perintah Langsung Mojtaba Khamenei, Larang Uranium Dikeluarkan dari Iran, Ini Alasannya

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dikabarkan mengeluarkan perintah langsung terkait uranium negeri tersebut.

Tayang:
HO//Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera
PERINTAH MOJTABA KHAMENEI - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English pada Senin (9/3/2026) menunjukkan gambar Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, diangkat sebagai pengganti ayahnya, Minggu (8/3/2026). Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dikabarkan memerintahkan larangan pengiriman uranium yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri.(Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera) 
Ringkasan Berita:
  • Larangan ekspor uranium oleh Mojtaba Khamenei memperburuk jalan damai antara Iran dan AS.
  • Negosiasi semakin rumit akibat saling curiga, blokade ekonomi, dan ancaman serangan baru.
  • Meski buntu, opsi kompromi melalui pengawasan IAEA masih terbuka untuk menyelesaikan isu stok uranium.

TRIBUNKALTIM.CO - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dikabarkan mengeluarkan perintah langsung terkait uranium negeri tersebut.

Mojtaba Khamenei mengeluarkan larangan pengiriman uranium yang mendekati kadar senjata ke luar negeri. 

Kebijakan ini langsung berbenturan dengan tuntutan utama Amerika Serikat (AS) dalam perundingan damai.

Baca juga: Intelijen AS Bongkar Iran Diam-diam Bangun Lagi Mesin Perang, Produksi Drone Tempur Dikebut

Langkah keras Teheran diprediksi memperumit proses negosiasi untuk mengakhiri perang yang pecah sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa uranium Iran harus keluar dari negara tersebut sebagai syarat wajib kesepakatan damai.

Sumber internal Iran menyebutkan, arahan Khamenei merupakan konsensus lembaga negara.

Presiden AS Donald Trump sendiri berkukuh agar uranium Iran harus dikeluarkan dari negara tersebut sebagai klausul wajib dalam kesepakatan damai.

Namun, pihak Iran memiliki pertimbangan keamanan yang berbeda, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (21/5/2026).

"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam lembaga, adalah bahwa stok uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," ujar salah satu dari dua sumber Iran yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Reuters.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Disebut Hanya Luka Ringan, Pejabat Iran: Dia Akan Muncul Jika Waktunya Tepat

Bikin Pertahanan Iran Lemah

Para pejabat tinggi di Teheran meyakini, mengirim material nuklir tersebut ke luar negeri justru akan membuat pertahanan Iran melemah.

Sehingga, Iran lebih rentan terhadap serangan masa depan dari AS dan Israel. 

Sebagai pemegang keputusan akhir dalam urusan penting negara, keputusan Mojtaba Khamenei ini menjadi posisi tawar yang sulit digoyahkan.

Hingga saat ini, Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan resmi mengenai situasi tersebut.

Saling Curiga 

Perang Iran saat ini memang sedang berada dalam fase gencatan senjata yang rapuh. 

Perang tersebut sempat meluas ketika Teheran membalas serangan, disusul pecahnya pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.

Upaya damai yang dimediasi oleh Pakistan sejauh ini belum menemui titik terang yang besar. 

Proses negosiasi semakin rumit akibat blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran, sebagai balasan atas aksi Iran yang memblokade Selat Hormuz.

Baca juga: Silang Pendapat AS dengan Israel Soal Situasi di Iran, Netanyahu Ingin Lanjutkan Perang

Sumber internal Iran menyebutkan adanya kecurigaan mendalam bahwa jeda pertempuran ini hanyalah taktik penipuan Washington untuk menciptakan rasa aman palsu sebelum meluncurkan serangan udara baru.

Hal senada diungkapkan oleh kepala negosiator perdamaian Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu (20/5/2026).

"Pergerakan musuh yang nyata maupun tersembunyi menunjukkan bahwa orang-orang Amerika sedang mempersiapkan serangan baru," kata Ghalibaf.

Ancaman Trump

Di sisi lain, Trump menyatakan pada Rabu bahwa AS siap melanjutkan serangan ke Teheran jika Iran menolak kesepakatan damai. 

Kendati demikian, Trump mengisyaratkan Washington bisa menunggu beberapa hari untuk mendapatkan jawaban yang tepat dari Iran.

Meskipun kedua belah pihak dilaporkan mulai memperkecil beberapa perbedaan, keretakan mendalam tetap ada pada isu program nuklir Teheran, termasuk nasib stok uranium dan tuntutan Teheran agar hak pengayaan mereka diakui.

Perubahan Sikap Iran

Sebelum perang pecah, Iran sebenarnya sempat menunjukkan kesiapan untuk mengirimkan setengah dari stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen. 

Namun, posisi itu berubah total setelah munculnya ancaman berulang dari Trump untuk menyerang Iran.

Baca juga: Amerika Serikat Kecolongan, Iran Nyaris Punya 11 Bom Nuklir, Teheran Sebut Untuk Tujuan Damai

Bagi Iran, prioritas utama saat ini adalah memastikan berakhirnya perang secara permanen dan mendapatkan jaminan bahwa AS dan Israel tidak akan meluncurkan serangan lanjutan. 

Setelah jaminan itu ada, Iran baru bersedia melakukan negosiasi terperinci mengenai program nukrilnya.

Di sisi lain, dunia Barat menuduh pengayaan uranium 60 persen milik Iran jauh melampaui kebutuhan sipil dan mendekati kadar 90 persen untuk senjata. 

Iran sendiri secara konsisten membantah pihaknya mengincar senjata nuklir, dan berdalih bahwa uranium tersebut dibutuhkan untuk keperluan medis dan reaktor riset di Teheran.

Meski situasi tampak buntu, sumber Iran menyebutkan masih ada formula yang layak untuk menyelesaikan masalah stok ini tanpa harus mengirimnya ke luar negeri.

Salah satunya adalah menempatkan stok uranium itu di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Berdasarkan estimasi IAEA, Iran memiliki 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen ketika Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir mereka pada Juni 2025. 

Seberapa banyak yang tersisa saat ini masih belum jelas.

Kepala IAEA Rafael Grossi sempat menyatakan pada Maret bahwa sisa stok tersebut disimpan di kompleks terowongan fasilitas nuklir Isfahan (sekitar 200 kg), serta sebagian lagi di kompleks nuklir Natanz. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved