Kamis, 28 Mei 2026

Berita Viral

Viral Dugaan WNI Buat Riset Palsu dengan AI Demi Plesiran, Respons Mendiktisaintek dan Kampus

Viral dugaan WNI buat riset palsu demi plesiran. Respons Mendiktisainstek dan kampus

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
Grafis Tribun Kaltim/Canva
PALSUKAN RISET - Ilustrasi. Viral dugaan WNI buat riset palsu demi plesiran. Respons Mendiktisainstek dan kampus. (Grafis Tribun Kaltim/Canva) 

Ringkasan Berita:
  • WNI diduga memalsukan riset di konferensi ISPPD di Denmark.
  • Modus meliputi ganti identitas dan penggunaan AI untuk fabrikasi.
  • Kasus ini diduga bermotif untuk mendapatkan dana perjalanan.
  • Mendiktisaintek mendalami kasus, sebut pelaku bukan peneliti aktif.
  • UNY klarifikasi terkait alumni yang namanya terseret isu tersebut.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Kabar dugaan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi periset yang memalsukan hasil kerjanya mengemuka ke publik.

Di medsos ramai beredar dugaan sejumlah peneliti asal Indonesia itu beraksi culas dalam konferensi internasional tentang pneumonia atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Akun Thread @mandharabrasika dua hari lalu mengungkap sejumlah kejanggalan yang diduga terjadi di hadapan ribuan ilmuwan dunia.

Salah satu pelanggaran yang disorot adalah aksi penipuan identitas oleh oknum peserta saat melakukan presentasi.

Baca juga: Viral, 2 WNI Diduga Palsukan Riset di Konferensi Ilmiah Denmark, Kemendiktisaintek Turun Tangan

Akun Ida Bagus Mandhara Brasika, ilmuwan iklim menuliskan, "Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir... salah seorang peserta diduga berganti identitas saat presentasi, termasuk mengganti nama, jilbab, dan nametag." 

Selain pemalsuan identitas, penelitian yang dipaparkan juga diduga kuat merupakan hasil fabrikasi.

Diduga Pakai AI Bikin Tulisan Ilmiah 

Oknum peneliti tersebut ditengarai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memalsukan data, gambar, hingga seluruh isi tulisan ilmiah.

Tak hanya itu, kejanggalan lainnya yakni lokasi penelitian yang tercantum dalam riset tersebut.

Lokasi riset tersebar di berbagai belahan dunia, di antaranya Pegunungan Andes (Peru), Etiopia dan Sudan Selatan, Guatemala, Lebanon, dan Yordani, Bangladesh, Filipina, Nepal, dan India Utara, Kenya hingga Malawi

Persoalannya, seluruh tim peneliti diketahui hanya berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal dari negara-negara tersebut.

Selain itu, riset itu juga disebut tidak memiliki keterangan persetujuan etik (ethical clearance).

Menurut akun pengunggah, modus tersebut diduga sengaja dilakukan demi mendapatkan dana bantuan perjalanan (travel grant) agar para pelaku bisa pergi ke luar negeri secara gratis.

Respons pemerintah Mendiktisaintek mendalami informasi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, buka suara terkait dugaan pemalsuan dan fabrikasi riset itu.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved