Senin, 1 Juni 2026

Global Warming

Peringatan WMO: Dunia Segera Alami Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah, Ancaman Serius bagi Manusia

WMO di bawah naungan PBB merilis peringatan serius bahwa Bumi hampir pasti akan mencatat tahun terpanas sepanjang sejarah sebelum 2030.

Tayang:
DOK. TRIBUNKALTIM.CO
CUACA PANAS EKSTREM - Ilustrasi kondisi cuaca di Samarinda Selasa (13/5/2025). Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis peringatan serius bahwa Bumi hampir pasti akan mencatat tahun terpanas sepanjang sejarah sebelum 2030. (DOK. TRIBUNKALTIM.CO) 

Ringkasan Berita:
  • WMO peringatkan Bumi hampir pasti alami tahun terpanas sebelum 2030 akibat krisis iklim dan El Nino.
  • Target Perjanjian Paris untuk menahan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius semakin sulit dicapai.
  • Dampak nyata berupa gelombang panas, kekeringan, dan banjir besar menuntut aksi cepat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

TRIBUNKALTIM.CO –  Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis peringatan serius bahwa Bumi hampir pasti akan mencatat tahun terpanas sepanjang sejarah sebelum 2030.

Peringatan ini muncul setelah laporan terbaru dari Kantor Meteorologi Inggris (Met Office) menunjukkan tren kenaikan suhu global yang semakin mengkhawatirkan.

Lonjakan suhu dipicu oleh krisis iklim yang semakin parah serta fenomena El Nino — pola cuaca alami di Samudra Pasifik yang menyebabkan pelepasan panas laut ke atmosfer.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Ancam Kesehatan, Dinkes Paser Edukasi Warga untuk Jaga Daya Tahan Tubuh

Kombinasi keduanya diperkirakan membuat tahun 2027 berpotensi menjadi pemecah rekor baru.

Laporan itu memproyeksikan ada peluang sebesar 86 persen bahwa setidaknya satu tahun di antara periode 2026 hingga 2030 akan melampaui tahun 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat di dunia.

Selain itu, terdapat kemungkinan 75 persen bahwa rata-rata suhu global dalam periode lima tahun tersebut akan melewati ambang batas 1,5 derajat celsius di atas masa pra-industri.

Ambang ini adalah batas kritis yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk mencegah dampak iklim ekstrem.

Alarm Keras Bagi Masyarakat

Menanggapi ancaman serius ini, Kepala Iklim PBB Simon Stiell menyoroti dampak nyata dari gelombang panas yang melanda Eropa baru-baru ini sebagai alarm keras bagi masyarakat internasional.

"Gelombang panas terbaru di Eropa adalah pengingat yang kejam akan dampak krisis iklim yang terus meningkat, baik dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi. Banyak wilayah lain di dunia juga terpukul keras, seperti India dan bagian Asia lainnya," ujar Stiell.

Stiell menegaskan bahwa setiap negara kini memiliki tugas utama untuk segera melepaskan ketergantungan dari energi kotor demi meminimalkan dampak buruk perubahan iklim.

"Melindungi nyawa manusia, bisnis, dan perekonomian dari panas ekstrem serta berbagai biaya tinggi lainnya akibat perubahan iklim adalah tugas inti bagi setiap negara, dan itu dimulai dengan menghentikan kecanduan bahan bakar fosil jauh lebih cepat," tegasnya. 

Dia juga menggarisbawahi bahwa energi bersih saat ini sudah lebih murah dan lebih cepat diproduksi ketimbang bahan bakar fosil.

Baca juga: OIKN Pasang Sensor Pintar untuk Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan saat El Nino 2026

Ancaman Emisi dan El Nino

Laporan WMO mengungkapkan bahwa peningkatan suhu global ini tidak lepas dari emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil yang terus meningkat. 

Emisi ini memerangkap lebih banyak panas dan memicu cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas mematikan yang melanda Inggris dan Eropa baru-baru ini.

Dampak dari pemanasan global pun sangat fatal.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved