Selasa, 2 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Ancam Tembak Kapal Militer yang Ikut Campur Urusan di Selat Hormuz

Iran tidak segan untuk menyerang kapal militer yang ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Tayang:
HO//IST/Tangkap Layar/Khaberni
SELAT HORMUZ MEMANAS - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Iran tidak segan untuk menyerang kapal militer yang ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz. 

TRIBUNKALTIM.CO - Iran tidak segan untuk menyerang kapal militer yang ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal militer asing yang mencoba ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz atau mengganggu lalu lintas maritim akan langsung dijadikan sasaran tembak oleh angkatan bersenjata mereka.

Selat Hormuz, yang membentang di antara Iran dan Oman, merupakan salah satu chokepoint maritim paling krusial di dunia.

Baca juga: AS Optimistis Capai Kesepakatan dengan Iran, Trump: Pelan tapi Pasti Kita Dapat yang Diinginkan

Jalur ini menampung bagian signifikan dari distribusi minyak mentah global dan pengiriman gas alam cair (LNG) dunia.

Berdasarkan laporan IBRIB, maklumat tersebut dirilis secara resmi oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, komando militer gabungan tertinggi yang mengoordinasikan operasi antara Angkatan Bersandata Republik Islam Iran dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Markas besar militer tersebut menyatakan bahwa pengelolaan jalur air strategis tersebut saat ini sedang dikendalikan “dengan otoritas penuh” oleh pihak Teheran.

Dalam aturan baru yang diterbitkan, Iran mewajibkan seluruh kapal komersial dan kapal tanker minyak untuk bertransit melalui rute yang telah ditentukan, serta wajib mengantongi izin resmi dari Angkatan Laut IRGC.

Baca juga: Serangan Baru AS ke Iran, Kuwait Siaga Perang, Mendadak Aktifkan Pertahanan Udara

“Setiap upaya oleh kapal militer untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz atau mengganggu navigasi akan menjadi sasaran angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” bunyi pernyataan resmi komando militer Iran, Sabtu (30/5/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.

Tak hanya wajib melapor, Iran dilaporkan mulai mengenakan biaya transit yang sangat fantastis, yakni mencapai 2 juta dollar AS (sekitar Rp 32 miliar) per kapal.

Langkah sepihak ini langsung menuai kecaman dari para pengamat hukum laut yang menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum maritim internasional terkait prinsip kebebasan navigasi yang damai (freedom of navigation).

Pernyataan sepihak Teheran langsung mendapat respons konfrontatif dari Washington.

Baca juga: Donald Trump Tidak Puas dengan Draf Kesepakatan Damai Iran, AS Berencana Lanjutkan Serangan

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, secara tegas menolak klaim Iran yang menyebut mereka menguasai Selat Hormuz.

"Mereka ingin mengatakan bahwa mereka mengendalikan selat, tetapi kami melakukannya," ujar Hegseth lugas.

Hegseth menambahkan, peta pergerakan di balik layar serta dinamika jalannya proses negosiasi yang sedang berlangsung membuktikan bahwa pakta militer Amerika Serikat tetap memegang kendali atas jalur air strategis tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah ini merupakan rembesan dari rentetan konflik bersenjata yang pecah sejak awal tahun.

Baca juga: Israel Gagal dapat Kepercayaan Negara-negara Arab, Rencana Netanyahu Berantakan Jika AS-Iran Damai

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved