Berita Ekbis Terkini
Ekonom Unmul Peringatkan Bahaya Borong Dolar Saat Rupiah Melemah: Negara Bisa Jebol
Ekonom Unmul menilai aksi masyarakat membeli dolar secara besar-besaran untuk spekulasi keuntungan dapat memperlemah rupiah lebih jauh.
Penulis: Ardiana | Editor: Miftah Aulia Anggraini
Ringkasan Berita:
- Ekonom Unmul menilai aksi masyarakat membeli dolar secara besar-besaran untuk spekulasi keuntungan dapat memperlemah rupiah lebih jauh.
- Indonesia masih bergantung pada impor berbagai komoditas seperti beras, gula, dan jagung. Pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya impor karena transaksi menggunakan dolar AS.
- Di tengah ketidakpastian ekonomi, masyarakat disarankan memilih instrumen yang lebih aman seperti emas dan properti serta menghindari trading atau investasi digital yang belum dipahami
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Samarinda, Purwadi Purwoharsojo SE MSi CIMA, mengingatkan bahwa aksi memborong dolar untuk mencari keuntungan pribadi justru berpotensi memperparah tekanan terhadap ekonomi nasional.
Menurut Purwadi, ketika masyarakat berbondong-bondong membeli dolar demi meraih keuntungan dari selisih kurs, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas ekonomi secara lebih luas.
"Kalau semua orang melakukan seperti itu, negara bisa jebol," ucapnya.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Dibuka Rp 17.853 per Dollar AS, Pelemahan Rupiah Disorot Media Asing
Ia menilai, dalam situasi saat ini pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih tegas untuk membatasi transaksi dolar, kecuali untuk kepentingan strategis seperti pembayaran utang luar negeri maupun penambahan cadangan devisa negara.
"Kalau publik secara ugal-ugalan diperbolehkan mengambil keuntungan dari dolar menurut saya salah," ujarnya.
Purwadi menjelaskan, tingginya harga dolar saat ini tidak lepas dari mekanisme pasar.
Ketika permintaan meningkat dan banyak pihak berlomba membeli dolar, nilai mata uang tersebut akan terus naik dan menjadi semakin langka.
Baca juga: Dosen Ekonomi dari FEB Unmul Samarinda Soroti Risiko Memborong Dolar Saat Rupiah Melemah
Kondisi itu, menurutnya, berpotensi mendorong masyarakat masuk ke dalam pola spekulasi yang hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Ia mencontohkan seseorang yang membeli dolar saat kurs Rp15 ribu dan menjualnya kembali ketika mencapai Rp17 ribu memang memperoleh keuntungan pribadi.
Namun apabila perilaku tersebut dilakukan secara masif oleh masyarakat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan semakin besar.
Selain itu, Purwadi juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap berbagai komoditas impor.
Baca juga: Rupiah Ambruk hingga Rp 17.900 per Dollar AS, Fundamental Ekonomi dan Kepercayaan Investor Disorot
Pelemahan rupiah otomatis akan membuat biaya impor meningkat karena sebagian besar transaksi internasional menggunakan dolar Amerika Serikat.
"Beras impor, gula impor, jagung impor. Hampir semua tergantung dolar," tambahnya.
Ia menilai, tekanan terhadap ekonomi nasional tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti konflik geopolitik dan perang yang berdampak pada ekonomi dunia.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Mulawarman
Purwadi Purwoharsojo
nilai tukar rupiah
dolar Amerika Serikat
TribunKaltim.co
| Harga BBM Terbaru untuk Kalimantan Timur per 1 Juni 2026, Pertamax Turbo Naik, Dexlite Turun |
|
|---|
| Sempat Digeser Pemilik Bayan, Awal Juni 2026 Prayogo Pangestu Kembali Jadi Orang Terkaya Indonesia |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Jenis Solar Turun 1 Juni 2026, Rincian Harga di SPBU Pertamina, BP dan Shell |
|
|---|
| Nilai Tukar Rupiah Dibuka Rp 17.853 per Dollar AS, Pelemahan Rupiah Disorot Media Asing |
|
|---|
| Harga Avtur Turun per 1 Juni 2026, Pertamina: Berlaku di Seluruh Bandara Utama hingga Perintis |
|
|---|
