Selasa, 2 Juni 2026

Berita Nasional Terkini

Ini Dampak Nyata yang Bisa Dirasakan Masyarakat Bila Rupiah Tembus Rp25.000 per Dolar

Rupiah diprediksi bisa tembus Rp25.000 per dolar AS pada akhir 2026. Apa dampaknya bagi masyarakat? Simak penjelasannya

Tayang:
Editor: Doan Pardede
Wartakota/Nur Ichsan
RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi. Rupiah diprediksi bisa tembus Rp25.000 per dolar AS pada akhir 2026. Apa dampaknya bagi masyarakat? Simak penjelasan soal harga pangan, barang impor, hingga kondisi ekonomi Indonesia. 
Ringkasan Berita:
  • Ekonom Ferry Latuhihin memprediksi rupiah berpotensi melemah hingga Rp25.000 per dolar AS pada semester kedua 2026. 
  • Jika skenario tersebut terjadi, masyarakat bisa merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang impor, pangan, biaya perjalanan luar negeri, hingga tekanan terhadap dunia usaha. 
  • Namun pemerintah tetap optimistis rupiah akan menguat kembali seiring membaiknya kondisi global dan upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.

TRIBUNKALTIM,CO - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah ekonom Ferry Latuhihin memperkirakan mata uang Indonesia berpotensi melemah hingga mencapai Rp25.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada semester kedua tahun 2026.

Prediksi tersebut muncul di tengah kondisi rupiah yang masih bergerak fluktuatif.

Berdasarkan data perdagangan pada Senin, 1 Juni 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.818 per dolar AS, menguat sekitar 0,35 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.881 per dolar AS.

Meski demikian, Ferry menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut akibat berbagai faktor global dan domestik.

Baca juga: Cerita Gen Z di Balikpapan Hadapi Efek Pengutan Dolar, Mulai Pangkas Nongkrong hingga Tunda Liburan

Jika skenario tersebut benar terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar keuangan, tetapi juga masyarakat luas.

Prediksi Rupiah Rp25.000 Menurut Ekonom

Ferry Latuhihin memperkirakan nilai tukar dolar AS dapat mencapai Rp22.000 pada Juli 2026 dan berpotensi naik hingga Rp25.000 pada akhir tahun.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah berkurangnya daya tarik aset keuangan Indonesia dibandingkan Amerika Serikat, terutama dari sisi obligasi pemerintah.

Ia menilai selisih imbal hasil dan risiko investasi dapat mendorong investor memilih menempatkan dana di aset dolar AS dibandingkan pasar Indonesia.

Selain faktor keuangan global, Ferry juga menyoroti potensi dampak fenomena El Nino yang dapat menekan produksi pangan nasional.

Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kenaikan harga bahan pokok sehingga memperbesar tekanan inflasi dan memperlemah nilai tukar rupiah.

Ferry juga mengingatkan adanya risiko terhadap neraca pembayaran Indonesia apabila arus modal asing keluar dalam jumlah besar.

"Kalau menurut saya, sehingga juga harga-harga pangan akan naik. Oleh karena itu, saya beralasan untuk mengatakan bahwa kemungkinan besar di bulan Juli itu dolar sudah berada di posisi Rp22.000, bahkan di semester kedua dari Juli sampai Desember itu bisa mencapai Rp25.000," ungkapnya. 

"Saya bukan nakut-nakutin ini saya menghitungnya sebagai ekonom loh ya, dengan formula-formula saya gitu loh ya," imbuh Ferry, seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Dampak Jika Rupiah Tembus Rp25.000

Jika nilai tukar rupiah benar-benar mencapai Rp25.000 per dolar AS, sejumlah sektor diperkirakan akan terkena dampak langsung.

1. Harga Barang Impor Berpotensi Melonjak

Indonesia masih mengimpor berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri, obat-obatan, hingga produk elektronik.

Ketika dolar semakin mahal, biaya impor ikut meningkat.

Akibatnya, harga barang-barang yang menggunakan komponen impor berpotensi naik di pasar domestik.

2. Harga Pangan Bisa Semakin Mahal

Jika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan gangguan produksi akibat El Nino, tekanan terhadap harga pangan bisa semakin besar.

Komoditas seperti beras, gandum, kedelai, gula, hingga pakan ternak berpotensi mengalami kenaikan harga yang kemudian berdampak pada daya beli masyarakat.

3. Biaya Pendidikan dan Wisata Luar Negeri Naik

Masyarakat yang memiliki rencana kuliah di luar negeri, umrah, haji khusus, atau perjalanan internasional akan menghadapi biaya yang lebih tinggi karena kebutuhan valuta asing meningkat.

4. Dunia Usaha Menghadapi Tekanan

Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi.

Jika tidak mampu menyerap kenaikan biaya tersebut, perusahaan biasanya akan menyesuaikan harga jual produk kepada konsumen.

5. Cicilan Utang Valas Semakin Berat

Perusahaan maupun individu yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS akan menghadapi beban yang lebih besar ketika rupiah melemah.

Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan keuangan pelaku usaha dan meningkatkan risiko gagal bayar.

Pemerintah Optimistis Rupiah Akan Menguat Kembali

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memiliki pandangan yang lebih optimistis.

Menurutnya, kondisi global berpotensi membaik dalam dua hingga tiga bulan mendatang, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda.

Purbaya menilai prospek perdamaian antara pihak-pihak yang terlibat konflik dapat mengurangi tekanan terhadap pasar keuangan global dan membantu memperkuat rupiah.

Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus melakukan koordinasi untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, termasuk melalui langkah-langkah di pasar obligasi agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Baca juga: Ekonom Unmul Peringatkan Bahaya Borong Dolar Saat Rupiah Melemah: Negara Bisa Jebol

Apakah Rupiah Rp25.000 Pasti Terjadi?

Hingga saat ini, prediksi rupiah mencapai Rp25.000 per dolar AS masih merupakan proyeksi dari seorang ekonom dan belum tentu terjadi.

Pergerakan nilai tukar dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, suku bunga Amerika Serikat, arus investasi asing, harga komoditas, hingga stabilitas geopolitik dunia.

Karena itu, perkembangan kurs rupiah masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar.

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved