Rabu, 3 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Divisi Riset IPOSS sebut BBM dari Sawit Tidak Layak Secara Keekonomian, Harga CPO Lebih Mahal

Divisi Riset IPOSS menilai BBM dari sawit tidak layak secara keekonomian, harga bahan bakunya yakni CPO lebih mahal.

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
BBM DARI SAWIT - Ilustrasi pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). Divisi Riset IPOSS menilai BBM dari sawit tidak layak secara keekonomian, harga bahan bakunya yakni CPO lebih mahal. (TRIBUNNEWS/JEPRIMA) 

Ringkasan Berita:
  • IPOSS soroti rencana pemerintah genjot biodiesel CPO untuk kurangi impor BBM.
  • Alokasi CPO untuk energi ancam pangsa pasar ekspor akibat kompetitor negara lain.
  • Program dianggap tak ekonomis karena harga CPO lebih mahal dari minyak mentah.
  • Harga minyak dunia yang tinggi bersifat sementara, selisih harga akan kembali ada.
  • Teknologi bensin sawit masih dalam kajian dan skala pilot project.
 

 

TRIBUNKALTIM.CO - Rencana Pemerintah menggenjot produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) menuai sorotan. 

Menurut Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas, alokasi CPO untuk sektor energi akan mempengaruhi daya saing produk dan masa depan pangsa pasar kelapa sawit dari Indonesia. 

Dimas menyebut skenario lain, penurunan ekspor CPO dari Indonesia memicu negara-negara lain untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit

Selasa (2/6/2026) Kepala Divisi Riset IPOSS mengatakan, "Misalnya, Nigeria, Brazil atau negara lain di garis khatulistiwa punya kesempatan untuk menaikkan produksi sawit mereka. 

Baca juga: Proyek Hilirisasi Sawit Rp1,88 Triliun Disiapkan di KIE Bontang, Bidik Investor Global

Kolombia punya rencana 6 juta hektare kelapa sawit.

Maka yang terjadi adalah di masa depan pangsa pasar sawit Indonesia akan berkurang akan diambil alih oleh negara lain." 

Harga CPO Lebih Mahal

Dimas menilai, CPO untuk campuran bahan bakar tidak layak dari aspek keekonomian. 

Program biodiesel menjadi layak secara keekonomian karena selisih harga produksinya disubsidi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) .

Padahal, sumber dana BPDP berasal dari ekspor CPO dan produk turunannya, bukan APBN.

"Kalau bicara keekonomian, sampai kapan pun semua ini enggak layak, karena harga bahan bakunya (CPO) saja jauh lebih mahal.

Kalau enggak ada yang menambal selisih harga CPO dengan bahan baku minyak bumi itu," ucapnya. 

Lonjakan sementara

Dalam kondisi krisis energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, minyak mentah global memang sangat mahal, bahkan melampaui CPO.

Namun, lonjakan harga minyak mentah global bersifat sementara atau tidak permanen.

Dalam keadaan normal, harga CPO lebih mahal dibandingkan minyak mentah global.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved