Pendidikan Tinggi
122 Prodi Perguruan Tinggi Ditutup Sepanjang 2026, Pengamat: yang Kapital Bertahan, yang Miskin Mati
Terdapat ratusan program studi (Prodi) di perguruan tinggi yang ditutup sepanjang 2026.
TRIBUNKALTIM.CO - Terdapat ratusan program studi (Prodi) di perguruan tinggi yang ditutup sepanjang 2026.
Penutupan ratusan prodi tersebut mendapatkan sorotan dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI)
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji mempertanyakan nasib dosen 122 prodi yang ditutup sepanjang tahun 2026.
Baca juga: Viral! Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Ini Daftar Lengkapnya
"Ke mana dosen-dosen prodi yang ditutup itu pergi? Mereka didepak ke prodi lain yang bukan keahliannya, menjadikan mereka 'dosen kompromi' yang kualitas mengajarnya pasti turun. Atau lebih buruk di-PHK massal tanpa pesangon layak karena kampus swasta kolaps," kata Ubaid, dilansir dari Kompas.com.
Selain itu, Ubaid juga menyoroti nasib sisa mahasiswa yang prodinya ditutup.
Menurut dia, penutupan prodi tersebut memaksa mahasiswa mengubah masa depan yang telah mereka rencanakan sejak awal masuk kuliah.
"Sementara mahasiswa yang tersisa dipaksa "bermigrasi" seperti pengungsi perang akademis, merusak rencana studi dan masa depan yang sudah mereka bayar mahal," ujar Ubaid.
Baca juga: UINSI Samarinda Wisuda 355 Mahasiswa, Perdana Luluskan Prodi Tadris Biologi-Manajemen Bisnis Syariah
Ubaid juga mengkritik pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang menyebut penutupan prodi tersebut atas permintaan perguruan tinggi.
Ia menilai, pernyataan tersebut bentuk cuci tangan birokratis yang manipulatif.
"Mengatakan kampus menutup prodinya secara sukarela sama saja dengan mengatakan pedagang kaki lima menutup lapaknya secara sukarela saat digusur satpol PP," kata Ubaid.
Ia menilai penutupan prodi tersebut terjadi akibat sistem tata kelola pendidikan tinggi yang diciptakan negara saat ini.
Baca juga: Kemendikti Saintek Akan Tutup Prodi Kuliah yang Tidak Relevan, Singgung Bonus Demografi
"Kampus-kampus itu tidak meminta tutup karena mereka bosan, mereka menutup prodi karena sistem tata kelola pendidikan tinggi yang diciptakan negara telah mencekik leher mereka sampai mati," ucap Ubaid.
JPPI pun mencurigai penutupan massal prodi tersebut akan memicu efek domino.
Kampus-kampus kecil di daerah berpotensi tutup, sementara mahasiswa hanya akan ada di segelintir kampus raksasa (PTN-BH) yang berorientasi bisnis.
"Ini adalah bentuk darwinisme sosial dalam pendidikan. Negara membiarkan hukum rimba berlaku: yang kuat kapitalnya bertahan, yang miskin mati," kata dia.
Baca juga: Pemkab Paser Gandeng Sapta Group, Siapkan Kampus dan Prodi Baru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pelaksanaan-seleksi-bersama-masuk-perguruan-tinggi-negeri-3554.jpg)