Berita Nasional Terkini
Pengamat Sarankan Prabowo Puasa Pidato 1-2 Bulan, Klaim Kemarahan Rakyat Bakal Mereda
Pengamat menilai pidato-pidato Presiden Prabowo justru memperbesar kemarahan publik dan memicu gelombang kritik.
Ringkasan Berita:
- Pengamat menilai pidato-pidato Presiden Prabowo justru memperbesar kemarahan publik dan memicu gelombang kritik.
- Prabowo disarankan "puasa pidato" sementara waktu agar tensi politik mereda dan fokus pada kebijakan yang menyentuh rakyat.
- Dalam menjaga sentimen publik, Prabowo dibandingkan dengan Jokowi. Apa yang dinilai menjadi keunggulan mantan presiden tersebut?
TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah meningkatnya kritik publik terhadap pemerintah dan maraknya aksi unjuk rasa di berbagai daerah, komunikasi politik Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan.
Sejumlah pengamat menilai cara penyampaian pesan kepada publik turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, berpendapat bahwa pemerintah perlu lebih fokus pada langkah-langkah yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dibandingkan memperbanyak penyampaian pidato di ruang publik.
Baca juga: Aliansi Balikpapan Bakal Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Harga BBM dan Evaluasi Kinerja Presiden Prabowo
Menurutnya, kebijakan yang menyentuh kebutuhan sehari-hari akan lebih efektif meredakan ketidakpuasan publik.
Tetapi, Prabowo dinilai gagal menjaga sentimen masyarakat melalui pidato-pidatonya yang dinilai Pangi banyak yang tidak terarah.
"Menurut saya, enggak usah Prabowo pidato dulu, 1-2 bulan ini pasti mereda negara ini. Yakin sama saya, berhenti Pak Prabowo itu pidato dua bulan ini."
"Jangankan dua bulan, seminggu ini berhenti pidato, enggak ada orang demo lagi," ungkap Pangi saat dihubungi Tribunnews.com melalui sambungan telepon, Jumat (11/6/2026).
Setelah itu, lanjut Pangi, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan ekonomi yang langsung menyentuh dapur masyarakat.
Mulai menurunkan harga Pertamax, menggratiskan premi BPJS Kesehatan, menurunkan token listrik, hingga merealisasikan pemotongan komisi aplikasi ojek online menjadi 8 persen yang telah dijanjikan sebelumnya.
"Presiden Prabowo berhenti untuk ngotot. Jangan maksa gitu aja. Jangan ngeyel."
"Jangan coba-coba nantangin rakyat. Kasian. Jangan-jangan Presiden Prabowo ini lebih banyak prestasi daripada Jokowi. Cuma ketika dia pidato, justru menghilangkan semua prestasi itu," ungkap Pangi.
Baca juga: Pidato Prabowo Dikritik Pengamat, Jokowi Dinilai Lebih Jago Jaga Perasaan Rakyat
Pidato Prabowo Tidak Terarah
Pangi menilai banyak pidato Prabowo yang terlalu 'liar' dan tidak terarah.
Ia mencontohkan pidato Prabowo dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).
Dalam penggalan pidatonya, Prabowo berpesan untuk mengabaikan pihak yang nyinyir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260601_Presiden-Prabowo-Subianto.jpg)